Browse By

Empat Sultan Akui Beri Mahar

KRAKSAAN – Empat Sultan Agung Padepokan Dimas Kanjeng mengakui menyerahkan uang mahar. Kemarin, pengakuan itu disampaikan dalam sidang kasus penipuan dengan terdakwa Dimas Kanjeng Taat Pribadi di  Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan.

Namun, mereka menyebut uang itu untuk pembangunan di Padepokan. Kemarin, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan lima Sultan Agung Padepokan Dimas Kanjeng  sebagai saksi. Yakni, Wahyu Wijaya, Suparman, Karimullah, Ahmad Subairi, dan Mishal Budianto.

Dari lima saksi itu, hanya  Karimullah yang mengaku tak menyerahkan mahar.  Dalam kesaksiannya, Mishal mengatakan, untuk menjadi pengikut Padepokan Dimas Kenjeng, ada syarat membayar mahar se ikhlasnya. Syarat itu petunjuk dari guru besar Padepokan, Abah  Ilyas.

Loading...

“Mahar itu kami gunakan  untuk pembangunan di padepokan. Ada pengurus pembangunan sendiri,” ujarnya.  Mishal mengakui, sejak 2006  sudah memberikan uang mahar Rp 16 juta. Tapi, pihaknya tidak pernah mengharapkan uangnya  kembali dengan jumlah lebih besar.

“Tapi, saya yakin dengan  ke mampuan Dimas Kanjeng,”  ujarnya. Saksi Wahyu Wijaya juga mengaku ikut menyumbang untuk padepokan sekitar Rp 15 juta. Itu, karena keyakinan hatinya atas kemampuan terdakwa dalam  proses pengadaan uang.

“Saya  yakin dengan kemampuan Dimas Kanjeng. Karena itu, kami masuk dalam padepokan,” ujar tim pelindung di padepokan itu. Sedangkan, Suparman mengaku menyerahkan mahar melalui  Ismail Hidayah secara bertahap.  Bila ditotal mencapai sekitar Rp 67 juta.

“Saya menyerahkan uang  mahar itu untuk pembangunan di padepokan,” ujar saksi yang menjadi sultan dengan sekitar  4.000 pengikut itu.  Suparman mengaku berteman dengan korban Prayitno. Karenanya, dirinya iseng mengirim gambar dirinya bersama terdakwa  dan sejumlah anggota Polsek Gading yang berpose di depan  empat peti berisi uang. Tapi, dirinya mengaku tak pernah menyampaikan kepada korban, jika  menyerahkan uang mahar sekian  akan kembali berlipat ganda.

“Prayitno awalnya tanya ke saya  siapa Dimas Kanjeng. Kemudian, saya arahkan ke Ismail. Setelah  itu, Prayitno komunikasinya dengan Ismail. Saya tegaskan Pak, Prayitno itu santri dengan koordinator Ismail,” jelasnya.

Menurut Suparman, uang senilai Rp 800 juta disetorkan Pra yit no pada Ismail. Prayitno juga meminta uang dikembalikan.  Bahkan, dengan mengancam meminta uang itu dikembalikan Rp 7,5 miliar karena punya saudara di Mabes Polri. Sempat mau  dikembalikan Rp 1,5 miliar, tapi  ditolak oleh Prayitno,” ujarnya.

Saksi Subairi juga mengatakan, uang setoran mahar untuk pembangunan. Memang sempat di sampaikan kalau sudah sukses, bisa mendapatkan lebih dari  uangnya. Dirinya mengaku menyetorkan mahar kepada Heriyanto. “Maksudnya sukses itu  kalau sudah waktu pembagian atau pencairan uang hasil proses,”  ujarnya.

Sedangkan, saksi Karimullah mengaku tak memiliki pengikut  dan tak pernah menyerahkan  uang mahar pada terdakwa. Namun, dirinya sempat mendapatkan bulpoin ladunni dan kotak ATM  dapur. “Saya diberi Dimas Kanjeng. Disampaikan kalau sudah  sukses bisa menguasai tujuh bahasa,” ujarnya.

Mendapati kesaksian itu, JPU Rahmat Hary mengatakan, para saksi menjelaskan modus yang ada di padepokan di bawah pimpinan terdakwa. Termasuk, menarik mahar. “Sesuai keterangan saksi, sampai saat ini tidak ada  kesaksian yang menyebutkan  mahar dikembalikan berlipat, tidak ada yang terbukti,” ujarnya.

Terpisah, penasihat hukum terdakwa, Muhammad Soleh mengatakan, kelima saksi menguntungkan terdakwa. Sebab,  para saksi tidak ada yang menyebutkan keterlibatan kliennya. “Ini hanya ulah Polda Jatim yang  mengada-ada untuk menjerat Taat  Pribadi. Pengakuan saksi, uang Rp 800 juta itu bukan milik Prayitno  pribadi, tapi uang teman-temannya.  Padahal, kasus penipuan itu tidak boleh diwakilkan dalam pelaporan,” katanya. (radar)