Browse By

Pelaku Asusila Buron

Polisi Tetapkan DPO

MAYANGAN – Sirat, 45, warga Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, yang “mengerjai” Pt, 12, tetangganya sendiri, hingga kemarin (30/4) tidak diketahui keberadaannya. Polisi pun menetapkan status Daftar  Pencarian Orang (DPO) pada  kakek satu cucu ini.

Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota AKP Suwancono mengatakan,  dari hasil pemeriksaan dan penyelidikan, Sirat terbukti bersalah. Pelaku juga sudah ditetapkan  sebagai tersangka. “Pelaku kini ditetapkan sebagai tersangka dan  DPO,” singkatnya.

Loading...

Suwancono mengatakan, pihaknya belum mendeteksi keberadaan pelaku.  Pihaknya juga meminta pada keluarga pelaku untuk memberi  tahu polisi jika ada informasi ter kait keberadaan pelaku. Terkait  dengan hukuman maksimal, yakni hukuman mati seperti kasus asusila di Bengkulu, Suwancono belum menanggapi.

Namun, pelaku hampir pasti  di kenakan pasal 76d UU Nomor 23/2002 sebagaimana diubah  dalam UU Nomor 35/2014   tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya 15 tahun   penjara.  Dalam kasus ini, unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Probolinggo Kota  bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB)   mengatasi trauma korban.

Diberitakan sebelumnya, Sabtu  (29/4) lalu Pt menjadi korban tindakan asusila Sirat. Sirat berpura-pura menelepon Ed, kakak Pt yang saat itu tengah melaut. Sebelumnya Sirat yang sudah  punya satu cucu ini tahu kalau   nomor ponsel Ed dipegang Pt.

Dalam sambungan telepon itu,Sirat berpura-pura kalau paman Pt yakni Sm, menitipkan uang melalui transfer padanya senilai  Rp 5 juta. Pt diminta untuk mengambil uang itu di rumahnya. Rupanya Sirat telah menunggu   Pt di jalan desa menuju rumahnya.

Sirat kemudian memegang Pt dan membawanya ke kebun tebu,  yang berjarak sekitar 100 meter  dari rumah korban. Saat itu, Pt berusaha berontak, bahkan korban berteriak minta pertolongan. Khawatir teriakan korban didengar warga, Sirat menyeret korban ke lokasi kebun tebu yang jauh  dari jangkauan warga.

Pelaku pun leluasa “mengerjai” korban. Setelah puas, pelaku meninggalkan  korban sendirian di TKP. Kasat Reskrim meminta orang tua waspada dan mengawasi anak-anaknya. Sebab, predator anak akhir-akhir ini adalah dari  orang dekat. Baik itu saudara maupun tetangga.

Di tempat terpisah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, Yunita Nurlaili mengungkapkan, sebelum kejadian pilu itu, Pt sudah enggan masuk sekolah. Padahal, ia masih tercatat  sebagai siswi salah satu SD negeri di Kecamatan Wonomerto.

Yunita mengatakan, Pt termasuk  salah satu siswi yang cukup pintar. Dari keterangan sekolah, Pt enggan masuk sekolah lantaran punya  masalah pribadi dengan teman  lain jenis. Pihak sekolah sendiri, sudah membujuk Pt untuk kembali bersekolah. Namun Pt tetap tidak mau.

“Kami dengan pihak sekolah  akan mengupayakan pendampingan serta pengawasan terhadap  Pt. Hal ini dilakukan guna untuk  mengobati trauma yang dideritanya. Serta, kami juga mengupayakan agar Pt bisa segera kembali  ke sekolah dan bergabung dengan  teman-temanya,” tegasnya.

Namun, untuk saat ini pihaknya  masih memberikan waktu hingga  proses pemeriksaan selesai dilakukan. Ia berharap, tidak ada lagi pelajar yang putus sekolah.  Lebih-lebih masih usia dini atau  masih SD. Jika terkendala masalah biaya, pihaknya akan memberikan kemudahan dan jalan keluar.  Selain itu, ia berharap ada peran serta keluarga dan lingkungan  untuk masa depan pendidikan  anak.

“Dengan harapan tidak ada lagi anak putus sekolah atau enggan pergi ke sekolah, hanya karena bermasalah dengan temannya,” imbuhnya. (radar)