Browse By

Kompak Mengaku Terpaksa

Kesaksian yang Tertulis dalam BAP

KRAKSAAN – Lima eksekutor pembunuh Abdul Gani, salah satu sultan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, dihadirkan dalam  persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi di PN Kraksaan ,kemarin (27/4). Dalam sidang itu,  banyak kesaksian saksi yang berbeda  dengan di Berita Acara Pemeriksaan  (BAP).

Kelima saksi itu Wahyu Wijaya, Wahyudi, Tukijan, Achmad Suryono, dan Mishal Budianto. Wahyu Wi jaya mengaku, mengaku kenal dengan Gani dan tak menampik jika Gani dibunuh. “Memang ada kejadian pembunuhan. Karena saya ada di  ruang tim pelindung. Tapi, keterangan di BAP itu tidak benar adanya,”  ujarnya.

Loading...

Ia membantah menyiapkan alat untuk membunuh Gani. Semua barang yang digunakan membunuh  Gani, memang sehari-hari berada di ruang itu.  “Waktu saya masuk ke ruang kamar tim pelindung, Gani ikut masuk dan menanyakan soal uang. Karena Gani marah, jadi saya tendang Gani.  Kemudian ada Muriyat dan Boiran yang ikut membantu,” ungkapnya.

Wahyu juga sakit hati pada ucapan Gani yang mempertanyakan kenapa uang tidak dibagikan. Saksi mengaku keterangan dalam  sidang pertama dan BAP berubah-  ubah karena keterangan BAP tidak benar. Ia menegaskan tidak pernah memanggil Muriyat dan Boiran ke  ruangan tim pelindung.

“Mereka  anggota tim pelindung dan sudah  biasa ada di ruang tim pelindung,”  katanya. Wahyu mengaku mendapatkan pukulan dan siksaan saat diperiksa polisi. Karenanya, antara BAP dan keterangan yang disampaikan di pengadilan berbeda.

“Saya persilakan penyidik menulis apa saja karena  saya gak kuat siksaan,” ujarnya. Dalam BAP, Wahyu menyebut jika pembunuhan atas inisiatif sendiri dan perintah Dimas Kanjeng. “Pernyataan itu tidak benar. Seperti  yang disampaikan di awal, keterangan  di BAP tidak benar,” tegasnya.

Selanjutnya, giliran saksi Wahyudi yang diperiksa. Wahyudi mengaku  banyak lupa dan tidak tahu. Seperti tanggal dan hari pembunuhan Abdul Gani. Ia mengaku tak pernah se mobil bersama Irfan menuju Wonogiri. “Saya tidak pernah menceritakan pada sopir, kecuali itu sudah ada perintah,” ujarnya.

Saksi mengatakan, Dimas Kanjeng  tak pernah mendengar Gani menjadi masalah bagi padepokan, apalagi minta dihabisi. “Tidak ada perintah seperti  itu,” tegasnya. Wahyudi tak menampik  ikut membunuh dan membuang mayat Gani ke Wonogiri.

Saksi lainnya, Kurniadi, mengaku tak masuk tim pelindung. Saat kejadian, dirinya masuk kamar tim pelindung. Di sana sudah ada dua orang. Tapi dirinya tidak memperhatikan apakah Gani atau bukan. Selepas dari kamar mandi, ternyata  ke dua orang itu adalah Wahyu dan Gani yang berkelahi.

“Saya sempat melerai perkelahian itu,” katanya. Tapi, karena Gani menghina dirinya, Kurniadi ikut memukul dan membuang Gani.  Sementara itu, saksi Achmad Suryono membantah pernah ke Solo menggunakan mobil Avanza seperti  dalam BAP. Saksi mengaku itu saat diperiksa di Polda karena diancam dipukuli polisi.

“Keterangan dalam BAP itu tidak benar. Keterangan itu karena terpaksa,” ujarnya.  Mishal Budianto, sultan padepokan sekaligus bendahara padepokan, mengaku tak pernah tahu soal isu penbunuhan terhadap Gani dan  penyebabnya.

“Kami tidak tahu soal penyebab kematian Abdul Gani. Kami juga menolak BAP itu,” terangnya. Usai sidang, penasihat hukum Dimas Kanjeng Muhammad Sholeh mengatakan, dalam sidang kemarin fokus pada penyusunan BAP yang  dianggap amburadul. Dimana dari  awal penangkapan diwarnai dengan  tindak kekerasan.

“Sedangkan, BAP berikutnya di Polda mengikuti hasil pemeriksaan di Polres Probolinggo yang disertai penyiksaan,” terangnya. JPU Muhammad Usman mengatakan, ada lima saksi yang merupakan  terdakwa atas kasus yang sama. Mishal Budianto tidak masuk dalam dugaan pembunuhan Abdul Gani, tapi pembunuhan Ismail Hidayah.

“Tapi,  masih ada kaitan dengan terdakwa  Taat Pribadi,” katanya. (radar)