Browse By

Warga Keluhkan Debu Galian C

WONOMERTO – Warga Desa Patalan, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, mengeluhkan tumpahan tanah galian C dari truk-truk pengangkut. Pasalnya, tanah-tanah yang jatuh ke jalan itu, kemudian diterbangkan angin dan  membuat warga sekitar terganggu.

Tidak hanya itu, warga juga mengeluhkan truk-truk pengangkut  galian C yang merusak jalan. Hal itu disampaikan Munhar, 38, warga setempat. Menurutnya, debu itu menghalangi anak- anak mereka di luar rumah. Ibu-ibu yang menjemur pakaian mengeluh karena baju-baju mereka kotor. “Debu ini sangat mengganggu,” terangnya pada Jawa Pos Radar Bromo, kemarin (25/4).

Tak hanya itu, banyak pengendara pandangan dan napasnya terganggu karena debu yang diterbangkan angin tersebut. Karenanya, sejumlah pengendara memakai masker untuk menghindari sesak napas akibat debu.  Keluhan tak berhenti sampai  di situ, ketika turun hujan, maka jalanan itu akan licin dan membahayakan kendaraan.

Loading...

Sejumlah  warga yang tidak tahan dengan  debu tersebut, banyak yang menyiram jalan. Padahal, dengan menyiram jalan, tidak mengurangi  potensi bahaya bagi pengendara yang melintas. Hal itu juga diungkapkan seorang warga yang enggan namanya  dikorankan.

Menurutnya, banyak tanaman yang mati akibat tebalnya debu yang ada. Seperti  beberapa tanaman cabai milik tetangganya. Ia mengaku, pengelola galian C sempat akan  memberi warga uang Rp 50 ribu, namun ditolaknya.  “Saya lupa bulan dan tanggalnya,  yang jelas sebelum pengerjaan galian ini. Akhir-akhir ini aktivitas  galian C tersebut mulai terlihat.  Sepertinya, tanahnya digunakan  untuk jalan tol yang akan dibangun  oleh pemerintah,” terangnya.

Terpisah, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (TPST) Kabupaten Probolinggo Hadi Prayitno mengungkapkan, izin galian C yang menangani adalah pemprov. Sehingga, pihaknya tidak mengetahui  izin pengelolaan tersebut. Sebab, tidak ada informasi pada pihaknya  terkait aktivitas tersebut.

“Kalau untuk pemberitahuan, tidak ada pemberitahuan pada kami. Di sisi lain yang menangani  hal itu yakni pihak perizinan provinsi,” terangnya. Sementara itu, pengawas keluar masuknya truk galian C di lokasi  tambang, Abdullah, 40, mengungkapkan, bahwa pihaknya setiap tiga kali sehari selalu melakukan penyiraman. Hal itu dilakukan guna untuk mengurangi debu yang ada.

 “Penyiraman dilakukan pada  pukul 07.00, 12.00, dan 16.00,” terang pria yang juga warga Desa Patalan itu. (radar)