Browse By

Baru Tahu Dua Hari Kemudian

KRAKSAAN – Empat saksi Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Jatim dihadirkan dalam lanjutan sidang kasus  pembunuhan terhadap korban Abdul Gani, salah satu bekas petinggi Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, kemarin(25/4).

Dalam sidang tersebut, Irfan Tedi, salah satu saksi baru mengetahui jika benda yang dibuang di Wonogiri, Jawa Tengah, itu adalah mayat Gani.  Irfan Tedi asal Kabupaten Bondowoso itu merupakan sopir Wahyudi, salah satu pengikut Dimas Kanjeng.

Irfan banyak menjelaskan keikutsertaan dirinya saat membuang mayat Gani ke  Wonogiri. Sebab, saksi Irfan selaku sopir Wahyudi diminta untuk mengemudi mobil Avanza yang ikut ke Wonogiri untuk membuang   mayat Gani.

Loading...

Saksi Irfan mengaku kenal dengan Wahyudi karena sesama  pengikut. Tetapi, Irfan diminta  menjadi sopir Wahyudi. Pada April 2016, saksi diminta oleh Wahyudi untuk menyewa mobil, tapi tidak diberitahu keperluan   sewa mobil itu.

“Irfan tolong sewa mobil Avanza  atau Xenia. Kemudian antar ke  padepokan dan serahkan pada Wahyu Wijaya,” ujar saksi Irfan sambil menirukan ucapan  Wahyudi. Irfan mengaku, saat itu dialah yang mengemudikan mobil  Avanza putih milik Wahyudi ke Wonogiri.

Di dalam mobil itu ada Muriyat, Wahyudi, dan dirinya sendiri. Selain Irfan Tedi, tiga saksi  lainnya yang dihadirkan dalam  persidangan adalah Esria Juni asal Kelurahan Semampir, Kecamatan Kraksaan; M. Syafi’i asal   Desa Sogaan, Kecamatan Pakuniran; dan Muhammad Ainul  Yaqin, asal Desa Kedungdalem,  Kecamatan Dringu.

Saksi Irfan mengaku, sempat mendengar cerita bahwa Abdul  Gani sempat memeras terdakwa Taat Pribadi. Ia memperoleh cerita itu dari Wahyudi, saat berada di  dalam kendaraan sepulang dari  padepokan menuju hotel. “Kalau  melihat ekspresinya, Pak Wahyudi  geram dengan aksi Gani memeras Taat Pribadi dengan alasan  koperasi,” ujarnya.

Ia mengaku, baru mengetahui barang yang dibuang di jembatan Wonogiri itu ternyata mayat  korban Gani. Itu pun setelah dua  hari kejadian. Namun, karena takut, Irfan hanya diam atau tidak  melapor ke polisi. Sebelum Irfan memberikan kesaksian, JPU meminta Eseriya Juni, yang merupakan istri Gani  untuk bersaksi.

Eseriya mengaku,  Gani terakhir pamit ke luar rumah pada 13 April 2016 silam. Saksi tidak mengetahui korban Gani   hendak pergi kemana. Ia juga tidak tahu, suaminya itu pergi  habis menerima telepon atau tidak.  Namun, keesokan harinya atau tanggal 14 April 2016, ia mendapat  kabar kalau suaminya meninggal   di Wonogiri, Jateng.

“Waktu itu dikabari oleh polisi kalau ada temu mayat dan identitasnya  suami saya. Tapi, tidak ditunjukkan  fotonya,” katanya dalam persidangan. Eseriye mengaku, pernah diajak  ke padepokan pada 2012 silam. Setelah itu, suaminya tidak pernah lagi mengajak dirinya ke padepokan.

Di padepokan hanya kegiatan istighotsah. “Setahu saya, kegiatan berkaitan dengan santunan ke panti asuhan,” ujarnya.  Ia mengaku, sempat mendengar bahwa suaminya tidak lagi disukai oleh padepokan. Tapi, semua itu   bukan cerita langsung dari korban Gani.

Sekitar 3 minggu sebelum suaminya ditemukan tewas, ia  sempat mendengar cerita dari teman suaminya, bahwa Gani  baru pulang dari Jakarta untuk  melaporkan padepokan.  Kesaksian berikutnya datang dari M. Syafi’i. Dalam ruang sidang,  Syafi’i mengenalkan diri sebagai  orang kepercayaan terdakwa Taat Pribadi.

Syafi’i mengaku pernah menerima uang titipan dari terdakwa Taat Pribadi. Sebelumnya, tidak pernah menerima uang  titipan dari terdakwa. Titipan itu dibungkus dalam  plastik hitam. Jumlahnya tak diketahui Syafi’i. Saksi mengaku, terdakwa Taat minta uang itu diantarkan ke Wahyu Wijaya.

“Saya tidak pernah nanya untuk apa,” ujarnya.  Saksi mengaku, jika uang titipan  itu diberikan di dapur. Saat itu, ia dipanggil oleh terdakwa Taat  dan meminta mengantarkan  uang itu ke Wahyu Wijaya. Saat itu juga, dirinya menyerahkan uang titipan terdakwa Taat Pribadi  ke Wahyu Wijaya di asrama.

”Setelah menyerahkan, saya  kembali ke dapur,” ujarnya.  Syafi’i mengatakan, pernah  melihat langsung Taat Pribadi saat memproses penggandaan  uang. Yaitu, mengeluarkan uang  dari belakang tubuhnya. Ia kebetulan selalu ada di dalam  padepokan.

“Saya tidak pernah  ngobrol permasalahan padepokan dengan Mas Kanjeng,” tuturnya.   Saksi Ainul Yaqin sendiri mengatakan, awal menjadi pengikut tahun 2008 lalu. Saat itu, dirinya  yakin dengan padepokan karena   terdakwa Taat Pribadi memberikan berlian untuk menyelesaikan  masalah utang dirinya. Namun, berlian itu bisa dijual menunggu petunjuk atau izin terdakwa.

“Dulunya tidak dimintai mahar. Kemudian, saya dipanggil oleh  Dimas Kanjeng dan diminta  untuk mengajak teman saya. Karena  saya sudah menjadi pengikut padepokan,” katanya. Mahar yang diserahkan pengikut, dikatakan Ainul, berbeda-beda. Sesuai janji yang disampaikan terdakwa Taat Pribadi,   pengikut baru setor Rp 5 juta  dapat Rp 5 miliar. Namun, hingga  saat ini belum ada mahar yang terealisasi.

“Mahar itu disetorkan  ke Dimas Kanjeng. Saya sampai  mengumpulkan mahar Rp 10 miliar,” tuturnya.  Ainul menambahkan, pada  tahun 2011 lalu, korban Gani bersama Ismail pernah berkumpul di rumahnya. Saat itu, korban  dan Ismail bingung karena janji terdakwa tak kunjung terbukti.

”Tapi, kami memilih untuk diam saja. Ikut petunjuk dan apa yang  dilakukan Dimas Kanjeng,” tambahnya. Muhammad Usman selaku JPU  mengatakan, keterangan saksi yang telah dihadirkan dalam ruang sidang, cukup membuktikan  keterlibatan terdakwa dalam kasus pembunuhan tersebut.

Dimana, saksi Irfan menyebutkan sering mendengar percakapan Wahyudi saat dihubungi Taat Pribadi.  “Tidak harus melihat langsung soal keberadaan Taat Pribadi  dalam kejadian itu. Tapi, keterangan saksi itu sudah sangat cukup membuktikan keterlibatan terdakwa,” terangnya.

Pendapat berbeda diutarakan Yan Juanda, penasihat hukum (PH) Dimas Kanjeng. Ia mengatakan, keterangan saksi yang di sampaikan dalam persidangan, tidak ada yang membuktikan  keterlibatan terdakwa. Sebab, para saksi tidak melihat langsung  Dimas Kanjeng ada dalam kejadian atau pembahasan rencana pembunuhan itu.

“Saksi-saksi itu tidak melihat atau mendengar langsung. Hanya katanya dan katanya. Tidak pernah ada kesaksian yang membuktikan,  kalau terdakwa ada di kejadian  itu,” terangnya. (radar)