Browse By

Pernah Menginap di Tahanan, Kini Banjir Orderan

DINDING Peranem (persimpangan enam) Bangil, dipenuhi  para remaja, kemarin siang. Sebagian ada yang
tengah duduk-duduk santai. Sebagian  lainnya, ada yang sibuk tengah mencoreti tembok pertokoan di wilayah  setempat.

Bentuk coretan yang mereka buat,  beragam. Ada yang memilih untuk melukiskan tulisan. Ada pula yang memilih untuk menggambar wajah  seseorang.  Seolah tak takut dengan si pemilik ruko, mereka dengan asyiknya menggambari sepanjang tembok setempat.

Sekitar 20 meter panjangnya, tembok pertokoan setempat mereka gambari sesuka hatinya masing-masing. “Kami ambil konsep tema bebas.  Kami tidak takut dimarahi pemilik bangunan karena memang sudah minta izin,” aku Diki Pratama, salah  satu player graffiti saat ditemui Jawa  Pos Radar Bromo, kemarin (23/4).

Loading...

Diki–sapaannya- memang seorang player atau pemain graffiti di wilayah  Bangil.  Ia juga merupakan koordinator Bombing Boys Crew yang memprakarsai kegiatan coret-coret di dinding pertokoan yang ada   di Peranem Bangil, kemarin.

Ada lebih dari 10 teman-temannya yang berpartisipasi dalam kegiatan itu. Mereka sengaja membubuhkan coretannya di   dinding peranem untuk mempercantik kawasan setempat. Selama  ini, tampilan dinding di Peranem   Bangil disebutkannya kurang bagus, terkesan kusam.

Padahal, jalan setempat merupakan jalur pantura yang menjadi  lalu lalang kendaraan dari Pasuruan-Surabaya. “Selain jalur utama, Bangil kan merupakan ibu kota Kabupaten Pasuruan. Makanya, perlu dipercantik. Nah,  langkah itulah yang kami lakukan,” sambung dia.

Diki mengakui, aktivitas yang kerap dilakukannya itu, tak selalu  disukai orang lain. Karena tak  jarang, aktivitas serupa yang dilakukannya, kerap mendapat  cibiran bahkan teguran. Namun, hal itu tak menyurutkan semangatnya untuk terus menyalurkan kreativitasnya.

Lelaki 22 tahun itu menguraikan, ia mulai menggemari seni gambar sejak 2014. Awalnya, lebih pada seni gambar tulisan atau tagging. Lambat laun, ia mulai melirik graffiti setelah melihat kecantikan seni coret-coret di dinding itu di wilayah Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo.

Hal itulah, yang membuatnya akhirnya kepincut untuk menggeluti dunia graffiti. Ia belajar otodidak. Selain belajar melalui internet, ia juga mengaplikasi- kannya melalui media kertas. “Tempat belajar pertama saya adalah kamar tidur. Kamar saya coret-coreti graffiti. Setelah mulai  mahir, saya pun turun jalan,” kisahnya.

Tentu tak mudah, awal menekuni seni gambar dinding itu. Ia beerapa kali mengalami kegagalan, untuk mengaplikasikan idenya ke dinding. “Saya sendiri sampai heran karena gambarnya jelek banget. Tapi, hal itu terus menjadi evaluasi hingga pelan-pelan gambar saya mulai membaik,” akunya.

Begitu mulai mahir, tembok- tem bok tepian jalan pun menjadi sasaran. Bukan hanya kawasan ruko, tetapi juga tembok rumah orang. Biasanya, ia melancarkan aksinya saat malam. Namun, tak jarang ketika siang. Nah, hal inilah yang akhirnya memicu masalah. Ia dimaki-maki pemilik rumah. Bahkan, ada pi- hak kepolisian yang sampai menegurnya. Karena pihak petugas mengkhawatirkan, ia melakukan pengerusakan.

“Kalau dimaki-maki sudah biasa. Bahkan, ada petugas dari kepolisian yang juga menegur. Untungnya, tidak sampai berbuntut panjang karena Pak Polisi hanya mengingatkan saya,” sambung pemuda yang bekerja sebagai buruh pabrik di wilayah  Beji ini.

Meski begitu, ia tak menyurutkan semangatnya. Justru dari situ  pula, ia semakin belajar untuk menjaga agar tidak sampai menjadi amukan orang atau pemilik bangunan. Karenanya, ia sebisa mungkin meminta izin untuk mengaplikasikan idenya ke dinding orang.

Dari situ pula, lambat laun keterampilannya itu mulai diakui. Buktinya, tak sedikit yang akhirnya kepincut untuk memanfaatkan jasanya. Mulai dari kafe hingga ruko-ruko pun tak jarang “meminjam” tangannya. Bukan hanya di lingkungan Bangil. Karena ia juga pernah menerima order dari wilayah Sidoarjo.

“Saya tidak mematok harga. Apalagi sama teman. Tapi, pernah saya mendapat honor Rp 1 juta untuk menggraffiti kawasan GOR Sidoarjo,” akunya. Cerita tak kalah seru soal dunia graffiti dirasakan oleh Musa Prastyawan alias Wawan. Ia tak sekadar ditegur atau dimarahi warga, tetapi juga pernah sempat harus “menginap” di tahanan.

Gara-garanya, ia dianggap melakukan vandalisme saat melukis graffiti. Bahkan, ia pun pernah diancam akan dibunuh oleh penjaga ruko. Gara-garanya penjaga ruko tak senang dengan coret-coretan yang dibuatnya.

“Waktu itu saya menggambar tembok toko. Tiba-tiba polisi datang dan menangkap saya. Saya dibawa dan terpaksa harus menginap semalaman di tahanan. Gara-garanya, saya diindikasikan melakukan vandalisme. Untungnya, tidak dan saya pun dibebaskan,” beber Wawan.

Pemuda yang sudah menekuni seni graffiti sejak 2005 silam itu,  mengaku tak hanya hal-hal buruk  yang pernah menimpanya. Karena sejatinya, banyak hal menyenangkan yang didapatinya dari seni graffiti. Selain menambah banyak teman, seni gambar dinding itu juga bisa memberinya banyak pundi-pundi rupiah.

Maklum, banyak order yang datang kepadanya. Ia sudah malang melintang ke sejumlah kota- kota yang ada di wilayah Jawa Timur untuk menyelesaikan order. Bukan hanya kota-kota besar seperti Surabaya, tetapi juga Probolinggo, Malang, dan beberapa daerah lainnya.

Job yang didapatinya, tak hanya sekelas kafe-kafe. Tetapi, juga perkantoran, warnet, dan tempat-tempat lainnya. Dari hobinya itu, ia bahkan pernah mendapatkan honor Rp 2,5 juta saat menggambar di Malang. “Memang masih ada yang menganggap graffiti menggangu. Tapi, banyak pula yang menyukai seni ini. Terbukti, ada saja order yang datang,” tutup Wawan. (radar)

Incoming search terms:

  • gambari graffiti rossi