Browse By

Gagalkan Penyelundupan Sabu di Lapas

Simpan Barang di Celana Dalam

MAYANGAN – Rasyad, 26, warga Jalan Kartini, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, diamankan petugas Lapas  Klas IIB Probolinggo, karena kedapatan menyimpan dua paket sabu-sabu di dalam celana dalamnya.

Sabu-sabu itu akan diselundupkannya ke dalam lapas atas pesanan M. Iksan, warga  binaan kasus begal. Terungkapnya kasus penyelundupan sabu itu, ketika petugas lapas curiga melihat ada benjolan di selangkangan Rasyad.

Loading...

Pria yang kemarin (22/4)  mengenakan kaus warna hitam itu, datang ke  lapas sekitar pukul 10.00 untuk menjenguk adiknya, Radifan, yang ditahan atas kasus kepemilikan  narkoba.  Ia berkunjung ke lapas ditemani FM, 26, temannya.

Saat melihat ada benjolan, petugas coba memeriksa dari luar. Karena mencurigakan, Rasyad dan faisol lantas diperiksa di salah satu ruangan petugas. Saat diminta membuka celananya, ditemukan sebuah benjolan yang  ternyata berisi dua paket sabu   yang dibungkus dengan kapas.  Sabu yang dibungkus kapas itu, direkatkan dengan lakban ke kulit selangkangan sisi kanan.

“Akhirnya anggota langsung mengamankan keduanya, serta  melakukan penyelidikan guna untuk mengetahui sabu tersebut akan diberikan pada siapa,” terang Kalapas Klas IIB Probolinggo, Imam Purwanto.

Kepada petugas, Rasyad mengaku jika sabu tersebut merupakan  pesanan Nanang Hermanto, 28, salah satu napi kamar C7 yang  sudah setahun mendekam di  dalam lapas karena kasus penganiayaan. “Saya kenal Nanang karena ia teman adik saya di  lapas,” terang Rasyad.

Karena menyebut nama Nanang, akhirnya petugas menghadirkan  Nanang dirungan itu. Nanang  sendiri tak menampik kenal dengan Rasyad, namun ia membantah sebagai pemesan. Ia berdalih,  Rasyad berkomunikasi dengan M. Iksan alias Kacong alias Moseng, teman satu selnya.

“Saya tidak tahu sama sekali  tentang barang itu, Pak. Benar pak, saya tidak tahu. Kemarin  yang telponan sama dia (Rasyad, Red) itu Kacong, namun pake  kartu saya,” katanya memelas.  Tentu saja hal itu membuat petu gas kaget. Pasalnya, ponsel merupakan salah satu barang yang  haram berada di dalam sel.

Karena itu, petugas kemudian memanggil narapidana yang bernama Iksan atau Kacong tersebut. Ia juga diminta membawa  ponsel yang dibuatnya berkomunikasi dengan orang luar. Kepada petugas, Iksan tak mengelak  memesan sabu itu menggunakan ponsel.

“Memang saya yang memesan sabu itu. Saya kenal JJ (pengedar, Red) dari Nanang. Akhirnya, saya  beli dan minta tolong pada Rasyad untuk mengantarkanya,” terangnya. Iksan menyebut, satu  paket sabu itu diistilahkan 1 galon.  Karena memesan dua paket, artinya 2 galon yang ia pesan. Total harga dua paket itu Rp 2,2 juta.

“Saya tidak tahu satu galon  beratnya berapa gram. Kami  menyebutnya hampir setengah  plastik kecil itu dengan satu galon. Saya masih membayar Rp 700 ribu via transfer. Sementara  sisanya masih belum saya bayar,”  terangnya.

Kepada koran ini, Iksan mengaku sempat curhat butuh sabu- sabu pada Nanang, teman satu  selnya di C.7, pada Jumat (21/4) lalu. Oleh Nanang, ia dikenalkan  dengan Jj, warga Desa Tunggak  Cerme, Kecamatan Kuripan,  Kabupaten Probolinggo.

Iksan lantas diberi nomor ponsel Jj  oleh Nanang.  Iksan kemudian menghubungi Jj menggunakan ponselnya, namun  memakai kartu seluler milik Nanang. Dalam pembicaraan itu, Iksan minta dikirimi sabu. Jj sempat meminta Iksan menyerahkan   ponselnya pada Nanang. Karena mendapat restu dari Nanang,  akhirnya JJ me nyanggupi pesanan   sabu dari Iksan.

Akhirnya disepakati dua paket sabu itu dengan harga Rp 2,2  juta. Jj meminta Iksan membayar uang muka. Iksan bersedia membayar uang muka Rp 700 ribu, dan berjanji melunasinya setelah mendapat uang tambahan.

Setelah itu, Iksan kemudian menghubungi teman satu komplotannya yang berada di luar lapas, untuk mentransfer uang pada Jj. Namun, Jj tak mau bertemu langsung dengan orang yang akan menjadi kurir sabu itu ke dalam lapas.

Jj memilih meletakkan dua paket sabu itu di tempat sampah dekat sebuah masjid di Jalan Kartini, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan. Dua paket sabu itu dimasukkan dalam bungkus rokok. Sekitar pukul 17.30, Iksan menghubungi Rasyad.

Ia meminta tolong untuk mengambil barang  titipan yang diletakkan di tempat sampah. Hal itu dibenarkan oleh Rasyad. “Ketika saya tanya barang apa, dia menjawab tidak boleh tahu. Hanya saja, saya  diminta untuk mengambilkan barangnya di sana (tempat sampah. Red). Barang itu dimasukan  dalam bungkus rokok,” ujar Rasyad.

Ia mengambil barang itu   selepas sekitar pukul 18.00.  Oleh Iksan, barang itu diminta di antar ke lapas bersamaan dengan jadwal Rasyad menjenguk Radifan. “Saya antar sekalian saya jenguk adik saya. Teman saya tidak tahu apa-apa, sebab saya yang ngajak dia untuk jenguk adik saya. Saya tidak mendapatkan bayaran apa-apa atau  dijanjikan apa apa,” katanya.

 Namun, ia mengaku akhirnya   tahu isi bungkusan itu. Setelah itu, pihak lapas berkoordinasi dengan Satreskoba  Polres Probolinggo Kota. Rasyad dan FM temannya, kemudian dibawa untuk dimintai keterangan. Sementara Nanang dan   Iksan dipastikan dapat sanksi tambahan.

“Kami beri sanksi berat. Keduanya tidak dapat remisi, baik  itu Pembebasan Bersyarat (PB)  maupun Cuti Bersyarat (CB),”  ujar Kalapas Imam Purwanto.  Sanski itu karena keduanya melakukan tindak kriminal. Yakni,  terlibat dalam pemesanan nar koba. Selain itu, mereka menggunakan ponsel di dalam lapas  yang memang dilarang.  

Selama berada di penjara, M. Iksan alias Kacong alias Moseng ini mendapat kiriman uang dari komplotannya yang berada  di luar lapas. Kepada koran ini, Kacong mengaku setiap bulan dapat kiriman Rp 700 ribu. Ia  mengaku anggota komplotannya   berjumlah 4 orang.

“Dua orang ditahan, salah satunya saya,” katanya. Selama  berada di balik jeruji besi, kedua  temannya yang tidak ditahan itulah, yang rutin mengirim uang. Hal itu menurut pria yang terjerat kasus begal dan divonis 5  tahun penjara ini, bagian dari   komitmen.

Menurut Iksan, jika ada salah  satu dari mereka yang tertangkap,  maka yang membiayai kebutuhan hidupnya adalah rekan yang  belum tertangkap. Hanya saja, Iksan enggan membeberkan nama kedua rekannya yang berada di luar lapas.

“Uang makan yang diberikan teman saya itu yang saya belikan  untuk sabu. Sabu ini saya pakek sendiri, tidak dijual. Pembayaranya via transsfer. Teman saya  yang mentransferkan. Untuk pembayaran sisanya, saya masih menunggu uang kiriman itu lagi,” terangnya. (radar)

Incoming search terms:

  • Maling konter hp di pasrepan
  • penyelundupan sabu di lapas