Browse By

Tetap Semangat meski Ikut Ujian Bareng Anak

SUASANA Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kauman di Kelurahan Kauman, Kecamatan Bangil, pagi kemarin tidak seperti biasanya. Puluhan sepeda  motor dan beberapa mobil tampak banyak berjajar di halaman depan  sekolah.

Kendati banyak kendaraan,  namun tak banyak lalu lalang orang  saat Jawa Pos Radar Bromo memasuki gedung depan sekolah. Saat menengok ke dalam ruang kelas, tampak laki-laki dan perempuan usia matang sibuk mengerjakan soal di   bangku kelas.

Yang berbeda, mereka memakai baju putih hitam. Usia pun bisa  dibilang tak muda lagi. Dari yang  masih sangat muda di awal 20- an sampai di atas 50-an.  Salah satu yang mencuri perhatian adalah laki-laki yang tampak sangat rapi.

Loading...

Berbeda dengan  peserta lainnya yang memilih memakai kemeja putih dan celana hitam saja. Laki-laki yang harus bersusah payah membaca soal dengan kaca matanya ini tampak   rapi. Dia mengenakan dasi dan peci hitam saat mengerjakan soal  Ma tematika di gelombang pertama kemarin.

Setelah gelombang pertama berakhir, Jawa Pos Radar Bromo  menemui laki-laki tersebut di dampingi oleh Pengurus Pusat  Kegiatan Belajar Mengajar  (PKBM) Sabilul Falah Bangil di  ruang kantor kepala sekolah. Namanya adalah Sampurna Efendi, laki-laki usia 54 tahun ini  berasal dari Raci, Bangil. Keriput di wajahnya memang  tak bisa menyembunyikan usianya yang sudah 54 tahun.

Namun, wajahnya tampak semringah, sesenang saat koran ini mengambil  gambar di ruang ujian. “Kebetulan ujian pertama matematika adalah mata pelajaran  favorit saja, jadi tidak ada masalah,” ujarya. Sampur, panggilannya mengatakan, dirinya memang suka  per kalian. Namun, jika sudah   pelajaran bahasa Inggris, dirinya  mengaku kesulitan menerima  bahasa asing tersebut.

Di hari kedua ujian ini memang  tidak sendiri. Dia bersama putra sulungnya, Saiful Aliq, 22, yang sama-sama mengikuti ujian Kejar Paket C. Meskipun usianya tidak muda  lagi, Sampur mengaku memang  ingin menyelesaikan pendidikannya sampai tingkat SMA.

“Dulu saya hanya lulusan SD  Inpres tahun 80-an. Akhirnya ya  cuma bisa kerja kasar jadi tukang sapu,” ungkapnya.  Area Bangil yang rutin disapunya  adalah wilayah dari Tugu Adipura sampai Pegadaian Bangil. Dirinya  rutin menyapu dari pukul 05.00   pagi sampai 08.00 dan dilanjutkan pada pukul 13.00 sampai 15.00.

Pekerjaan yang disebut pasukan  kuning ini sudah dilakoninya sejak 25 tahun yang lalu. Namun, Sampur cukup beruntung, kendati hanya ijazah SD,   dirinya bisa diangkat jadi PNS golongan 1A tahun 2007 lalu. Dulu, sebelum diangkat PNS,  Sampur mengaku memang hidup serba kekurangan. Laki-laki yang  memiliki 3 anak ini, bahkan kesulitan menyekolahkan anaknya sampai jenjang SMP. Padahal, anaknya, Saiful Aliq, diterima di SMPN 2 Pasuruan yang merupakan sekolah favorit.

“Karena kendala biaya termasuk  transport, anak saya berhenti  saat kelas dua. Akhirnya, sejak 6 tahun lalu bersama anak, saya  sama-sama berjuang untuk ikut  dari kejar paket B dan sekarang  Kejar Paket C,” terangnya.  Bersama anaknya, Sampur mengaku memang memiliki motivasi lebih.

Setelah membersihkan  Kota Bangil sepulang kerja. pukul  16.00 sampai 20.00 dirinya ikut belajar di PKBM Sabilul Falah Bangil yang biasanya diselenggarakan di SDN Kiduldalem IV tiga kali dalam seminggu.  “Jadi, belajar juga bareng anak, kalau kesulitan ada yang membantu,” terangnya.

Sampur menambahkan, di usia tua dan sudah bekerja memang memiliki tantangan sendiri untuk kembali belajar. Ditambah Sampur juga mengeluhkan kondisi matanya yang kesulitan membaca tulisan yang kecil.  “Tapi, senangnya karena teman  belajar ini banyak yang lebih  muda. Jadi, justru saya merasa  awet muda. Karena jadi banyak teman dan bercandaan juga,”  ungkapnya.

Setelah mengikuti Kejar Paket C ini, Sampur tak menampik memang ada keinginan untuk  melanjutkan ke jenjang lebih  tinggi. “Kalau masih ada umur, ya memang ada keinginan untuk  lanjut lagi. Tapi, yang utama anak  saya saja dulu semoga dia bisa  lanjut kuliah,” harapnya.

M. Najib, ketua PKBM Sabilul Falah Bangil mengatakan, ada  120 wajib belajar di tahun 2017  yang mengikuti Ujian Nasional  Kejar Paket ini. “Untuk faktor  usia memang beragam mulai dari usia 18 tahun sampai 54  tahun,” ungkapnya.

Bahkan, dari segi pekerjaan juga  beragam mulai dari yang ada di  perusahaan, sukwan, guru madrasah, pedagang, sampai ibu rumah tangga. Menurutnya, kejar paket ini tidak hanya di motivasi untuk mendapatkan ijazah setara   SMA.

“Motivasi mereka ini tidak hanya cari ijazah saja, tapi juga  mencari ilmu,” terangnya.  Heri Mulyono, kabid PAUD dan  Pendidikan Masyarakat Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan  menambahkan, tahun 2017 ini ada 1.254 warga belajar dengan rincian 862 laki-laki dan 392 perempuan yang ikut serta dalam  Unas Kejar Paket C.

Unas sendiri dilaksanakan tersebar di 20 lembaga yang menyelenggarakan Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM). (radar)

Incoming search terms:

  • ngentot anak kauman