Browse By

Petani Keluhkan Limbah PT Southern Marine Products

Dari PT Southern Marine Products

KADEMANGAN – Sejumlah petani mendatangi PT Southern Marine Products yang ada di Jalan Brantas, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, kemarin (13/4). Mereka mengeluhkan rusaknya jagung dan padi yang mereka tanam. Diduga, kerusakan tersebut disebabkan limbah yang dibuang pabrik tersebut.

Empat petani dan ulu-ulu (penjaga pintu air, Red) mendatangi pabrik yang juga dikenal dengan nama Scrum itu sekitar pukul 10.00. Mereka ditemui Nanang, teknisi limbah di pabrik tersebut di  salah satu ruangan pabrik. Mereka mengeluhkan kondisi pertanian warga yang rusak.  

Loading...

Atmari, 53, warga Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok, yang bertugas sebagai ulu-ulu mengatakan, tiga bulan  terakhir ini kondisi jagung hasil panen petani tidak dalam kondisi baik. Ia dan petani menduga akibat air limbah yang disalurkan melalui sungai Brantas. Petani selama ini mengandalkan air sungai Brantas untuk  mengairi sawah mereka.

“Limbah air ini dibuang di sini (sungai Brantas, Red) sudah lama,  tapi sembunyi-sembunyi. Padahal, pihak perusahaan mempunyai lahan sawah yang disewa untuk pembuangan limbah.  Namun, karena ditanami bawang dan jagung (oleh perusahaan, Red), jadi buangnya di sungai  ini,” terangnya.  

Atmari menyebut, kondisi tersebut sudah sejak lama dirasakan  petani. Namun, ia menduga, tidak setiap hari pabrik membuang limbahnya ke sungai  Brantas. “Yang parah sekitar 3 bulan terakhir. Akibatnya, jagung yang dipanen tidak berat (kopong, Red). Pembeli juga tahu jika jagung tersebut akibat limbah Scrum,” terangnya.

Karena itu pula, hasil panen  jagung petani merosot. Dari yang  semula bisa panen 4 ton dalam setengah hektare, kini hanya 3 ton saja. Untuk padi, beras yang  dihasilkan berwarna hitam dan  pecah-pecah. Selain itu, jika air terkena kulit bisa menyebabkan gatal-gatal.

Karenanya, ia dan petani berharap agar perusahaan tidak lagi membuang limbahnya di sungai tersebut. Pipa dari peru-sahaan yang ujungnya berada  di sungai Brantas, juga diminta  untuk ditutup. “Silakan jika mau  dibuang di lahan yang disewa  untuk limbah. Yang jelas  jangan  di sungai ini,” terangnya.

Sementara itu, Nanang menegaskan, hasil laboratorium di Malang, derajat keasaman atau pH limbah pabriknya berada di angka 7,6 sampai 7,8 atau normal.  Meski ia mengaku lupa, kapan  uji lab itu dilakukan. Nanang juga berdalih, jika limbah yang keluar melalui pipa ke sungai Brantas, merupakan limbah hasil mencuci lantai.

“Sebelumnya tidak ada masalah, untuk air tersebut bukan limbah  produksi tapi limbah cucian,”  katanya. Nanang mengaku, sepekan terakhir tidak ada aktivitas pengolahan ikan karena  pasokan ikan tidak ada. Terkait keluhan petani, ia mengaku akan menyampaikannya pada atasannya.

Selain itu,  untuk membuktikan tuduhan petani, menurutnya harus ada uji laboratorium. Nanang juga menunjukkan tandon limbah yang pipanya menjulur hingga  ke sungai Brantas. “Yang namanya limbah memang tidak sebening air. Memang ada bau, tapi tidak menyengat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas  Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo Tutang Heru Aribowo belum bisa dimintai komentarnya terkait keluhan petani tersebut. Dihubungi melalui ponselnya, tidak diangkat.  (radar)

Incoming search terms:

  • pt southern marine product probolinggo