Browse By

Kelima Saksi Sudutkan Dimas Kanjeng

KRAKSAAN – Sidang kasus dugaan pembunuhan terhadap  korban Abdul Gani, yang menjerat Dimas Kanjeng Taat Pri­badi, kemarin (13/4) menghadirkan 5 saksi. Lima saksi yang  tercatat dalam Berita Acara Pemeriksaan  ini memberat­kan terdakwa.

Keterangan  saksi menga rah pada ke­terlibatan Dimas Kanjeng atas kematian bekas orang pen­ting padepokan tersebut. Kelima saksi itu adalah Sa­triyo Adiputra, warga Kelurahan/Kecamatan Suboh, Kabupaten Situbondo, yang merupakan santri rekrutan Abdul Gani; Nur Fadilah, adik Gani yang merupakan warga Desa Krampilan,  Kecamatan Besuk, Kabupaten  Probolinggo; dan Mohamad  Efendi, keponakan Gani yang  merupakan warga Desa Krampilan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo.

Kemudian, ada Erwin Hariyani, warga Kelurahan Semampir, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, yang merupakan  istri kedua korban; dan Erik Yuliga, warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Semen, Kabupaten  Kediri, yang merupakan kawan Achmad Suryono, salah satu terdakwa pembunuhan.

Loading...

Dalam sidang yang berlangsung cukup lama itu, penasihat hukum (PH) terdakwa sempat menyampaikan instruksi beberapa kali. Alasannya, pertanyaan JPU pada saksi dianggap di luar konteks kasus dugaan pembunuhan   tersebut.

Dalam sidang tersebut, kelima saksi dimintai keterangannya satu persatu. Yang diperiksa pertama kali adalah Satriyo. Ia menjelaskan, keikutsertaannya menjadi santri karena diajak Gani. Mereka berdua berkawan sejak 2007  silam.

Awal mula mendengar  Gani tewas dari Polsek Kraksaan pada 14 April 2016 lalu. Sehari sebelumnya atau 13 April,  ia sempat bertemu Gani di rumahnya, di Kelurahan Semampir, Kecamatan Kraksaan.  “Gani dipanggil Bareskrim  Mabes Polri pada Selasa 12 April  atas kasus dugaan penipuan yang dilakukan Taat Pribadi,” terangnya.

Ia menduga, ada kaitannya antar peristiwa tersebut. Laporan yang masuk di Bareskrim itu  sengaja dibuat karena Gani menilai aktivitas padepokan selama ini hanya mengumpulkan uang. “Laporan itu tujuannya supaya uang mahar santri-santri di bawah korban Gani dikembalikan,” ujarnya.

Satriyo menyebutkan, pengumpulan uang dilakukan oleh koordinator-koordinator yang ada di masing-masing daerah. Tiap santri yang bergabung, memberikan mahar Rp 1 juta dan dijanjikan dapat ganti Rp 5 miliar.

“Sampai saat ini, tidak pernah dengar dan melihat soal bukti pencairan. Uang itu dikembalikan, saat santri meminta untuk dikembalikan. Tiap mahar yang masuk ke Gani, langsung disetor ke padepokan. Itu, sepengetahuan saya sendiri, bukan dengar dari siapa-siapa,” ungkapnya.

Saksi mengungkapkan, bersama Ismail Hidayah dan Ainul Yakin, Gani merupakan  orang kepercayaan padepokan karena memiliki banyak santri rekrutan. Karena itulah, mereka dipercaya untuk melalukan perluasan padepokan. Jika berhasil, dijanjikan  dapat Rp 400 triliun.

“Setahu saya janji Rp 400 triliun itu dari Dimas  Kanjeng,” ujarnya. Setelah saksi pertama selesai diperiksa, majelis hakim yang  diketuai Basuki Wiyono menskors sidang untuk istirahat. Setelah itu, saksi yang diperiksa adalah ibu dan anak, Nur Fadilah dan Mohamad Effendi.

Nur Fadillah  adalah adik kandung Gani. Dalam persidangan, kedua saksi menjelaskan kapan terakhir bertemu korban. Yakni, Rabu, 13 April 2016 sekitar pukul 08.00.  Saksi Efendi menyampaikan, saat itu ia dibangunkan Gani yang merupakan pamannya.

Setelah pertemuan pagi itu, dirinya tidak bertemu lagi sampai keesokan harinya mendapatkan kabar kalau pamannya ditemukan tewas di Wonogiri, Jateng. “Saya tahunya kalau pakde (Gani, Red) difitnah di padepokan,” ujarnya.

Keterangan serupa diungkapkan Nur Fadilah. Saat bertemu terakhir, diakui Nur, dirinya sempat mengingatkan korban Gani  untuk berhati-hati. Tetapi, dirinya tidak mengetahui soal permasalahan yang dihadapi Gani  dengan padepokan.

”Cuma firasat saja tidak enak. Jadi, saya  ingatkan pada Gani untuk berhati-hati,” ungkapnya. Saksi Erik Yuliga yang juga dihadirkan menjelaskan, Rabu  pagi dirinya diminta untuk menemani terdakwa Achmad Suryono untuk membawa mobil.  Selanjutnya, mobil itu itu ternyata menuju ke Solo.

“Saya menerima bungkusan uang dari Muriyat. Saya tidak tahu uang itu untuk apa,” ujarnya. Saksi terakhir yang diperiksa adalah Erwin Handayani, istri kedua korban. Dihadapan majelis hakim, Erwin mengungkapkan terakhir kali bertemu korban  saat membawa pulang mobil  baru Honda HRV. Saat ditanyakan dapat mobil dari mana,  ternyata dari padepokan.

“Kami  tanyakan karena saya tahu kondisi keuangan suami saya (Gani) dulu tidak sehat. Ternyata, mobil baru itu dari padepokan,”  akuinya.  Sehari sebelum korban dibunuh,  Erwin mengaku ada banyak telpon yang masuk ke Gani. Sempat saksi mengetahui korban Gani mendapatkan telpon dari Dimas Kanjeng. Saat menerima  telepon itu, Gani biasanya menyendiri dan tidak boleh ada yang mendengar.  

“Terima teleponnya mojok.  Saya tanyakan setelah selesai menelpon. Dia (Gani, Red) menyebutkan besok atau Rabu akan  bertemu Dimas Kanjeng. Besok  pagi sudah harus di padepokan,  jadi malam harinya itu pulang  langsung,” terangnya. 

Muhammad Usman selaku JPU mengatakan, kelima saksi yang  dihadirkan merupakan saksi BAP. Dari keterangan mereka, terungkap peristiwa kejadian  pembunuhan yang dialami korban Gani.  Dimana, saksi menyebutkan  korban terakhir pamit ke padepokan dan setelah itu tidak  dapat dihubungi. Malah keesokan harinya ada kabar Gani sudah tewas.  

“Keterangan para saksi sudah mengungkapkan kalau korban itu memang dibunuh karena hendak membongkar rahasia  padepokan. Itu, dibuktikan  dengan laporan dan panggilan dari Bareskrim Mabes Polri,”  terangnya.  

Sementara itu, Muhammad  Sholeh selaku penasihat hukum (PH) terdakwa mengatakan,  kelima saksi yang dihadirkan tidak ada yang memberikan keterangan soal keterlibatan kliennya. Ia juga mengungkapkan   kekecewaannya pada saksi. Sebab, kelima saksi itu sudah dihadirkan dalam sidang dugaan pembunuhan dengan tujuh terdakwa sebelumnya.  

Menurut Sholeh–sapaan akrabnya–, banyak keterangan saksi yang berbeda dibanding sidang sebelumnya. Saat sidang dulu, tidak  banyak mengungkapkan soal Gani yang menerima uang dari Dimas Kanjeng. Termasuk pemberian Dimas Kanjeng ke Gani  senilai Rp 400 juta.

“Tapi anehnya,  saksi Satriyo itu sama sekali tidak pernah diberi uang oleh Gani.  Padahal, saksi tahu, Gani menerima uang untuk kepentingan  pribadi. Ini, sebuah keanehan,”  ungkapnya. (radar)

Incoming search terms:

  • bokep istri di entot buronan