Browse By

Tol Pasuruan-Probolinggo Kepras Bukit dan Makam

Pembangunan Tol Paspro

PROBOLINGGO – Pembangunan tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro) hingga kini masih berjalan. Di wilayah Probolinggo, tol sepanjang 31,3 kilometer tersebut masih banyak hambatan. Selain pembebasan lahan, pengerjaan fisik diperkirakan bakal berat.

Ini, karena jalan tol akan membelah perbukitan serta pemakaman. Di Dusun Gunungtugel, Desa Tongas Kulon,  Kecamatan Tongas, misalnya. Lahan tol yang melintas di sana, ada lahan makam yang terkena. Alhasil, selama dua hari ini, warga desa setempat, merelokasi makam yang jumlahnya ada puluhan.

Loading...

Menurut Kepala Desa Tongas Kulon Ahmad Zaini, awal mula tak banyak yang tahu ada makam yang terkena lahan tol. Sebab, dahulu pemakaman tersebut  merupakan hutan. Nah, begitu  proyek tol Paspro dikerjakan, di  sana diketahui ada pemakaman yang lahannya seluas 30 meter  persegi, ikut terkena, sehingga   dilakukan relokasi.

“Setelah dihitung, diperkirakan  ada sekitar 54 makam. Namun,  tidak menutup kemungkinan  lebih dari itu, mengingat makam  tersebut sudah sangat tua. Bahkan, ahli warisnya sendiri sudah tidak ada atau tidak diketahui,” terangnya.

Berangkat dari kepedulian itu,  pihak desa berupaya memindahkan makam tersebut ke sebelah selatan jalan tol. Relokasi itu mulai dilakukan Senin (10/4) lalu hingga kemarin. Dari data makam yang terdeteksi ada 54 dan yang sudah dilakukan relokasi 37 makam. Sisanya, tinggal 17 makam yang rencananya hari ini (12/4) kelar.

”Tidak menutup kemungkinan pada saat digali ditemukan makam lainya seperti sebelumnya,” terangnya.   Ahmad, Kasun Ketompret  Desa Tongas Kulon yang juga menjadi tim mengungkapkan bahwa ada sekitar 7 orang yang bertugas menggali kubur.

Sementara lainya memiliki tugas  masing-masing, seperti dirinya yang bertugas membungkus tengkorak dengan kain kafan yang nantinya akan dipindahkan ke selatan tol.  “Untuk waktunya tidak ditentukan atau ditargetkan harus selesai kapan. Namun, hingga  saat ini masih kurang 17 makam,  diperkirakan besok sudah selesai,” terang lelaki yang ikut mengafani tengkorak-tengkorak di   pemakaman.

Kasi Kesra Desa Sulaiman yang juga termasuk panitia relokasi  makam mengungkapkan, pihaknya juga telah menanyakan  siapa yang mengetahui ahli warisnya. Namun, tidak ada yang  tahu. Hanya ada pengakuan orang yang dituakan mengaku, bahwa  di lokasi memang pernah ada  makam tua.

Selain pemakaman, pembangunan tol Paspro juga akan mengepras perbukitan. Salah satunya adalah Gunung tugel yang berlokasi di Desa Curah Tulis, Kecamatan Tongas. Saat Jawa Pos Radar Bromo meninjau di lokasi tersebut, alat berat bahkan sudah membelah perbukitan yang cukup dikenal banyak orang tersebut.

Adapun luas pengeprasan Gunung tugel lebarnya 60 meter dengan panjang kurang lebih 500 meter. Untuk membelah perbukitan tersebut, tak sedikit alat berat yang dikerahkan. Kades Curah Tulis, Syaiful mengungkapkan, pengeprasan Gunungtugel tersebut sudah dilakukan.

Mengingat jalan tol tersebut merupakan program dari pemerintah, maka pihaknya mendukung akan terlaksananya dan segera selesai tol tersebut, sehingga dapat digunakan untuk masyarakat. Gunungtugel sendiri sering menjadi tempat kunjungan sejumlah orang, pada hari tertentu.

Bagi  masyarakat sekitar, Gunungtugel  menjadi tempat yang biasa didatangi. Namun, dikeprasnya Gunungtugel, tak mendapat pertentangan dari masyarakat. Sebab, pembangunan tol juga untuk kepentingan  banyak orang.

Di sisi lain, PKK Tol Agus Minarmo mengatakan, pengerjaan  tol Paspro, tengah dikebut. Begitu juga dengan pembebasan lahan. Sejauh ini seksi satu  hingga 3 sudah selesai untuk pembebasan lahanya.  “Untuk pembebasan lahan sudah mencapai 93 persen,  dengan biaya pembebeasan Rp  1,1 triliun. Untuk konstruksinya sudah mencapai 20 persen,” terangnya.

Hanya saja yang kurang tinggal tanah kas desa atau milik pemerintah daerah. Namun, dia tak merinci dimana saja lokasi tanah kas desa tersebut.   Pihaknya juga mengungkapkan bahwa dalam pengerjaan fisik, ada kendala. Seperti mengepras  perbukitan seperti Gunungtugel di Desa Curah Tulis. Pembuatan  tol tidak semudah membalikan  tangan.

“Jika untuk ukuran tol, tidak heran jika ada gunung yang dilakukan pengeprasan. Pasalnya,   biasanya tol melintasi jalan perdesaan dan pegunungan, sehingga tidak jarang dilakukan pengeprasan. Salah satu contohnya di Sidoarjo atau Semarang. Dimana ada sebidang pegunungan atau perbukitan yang harus dikepras guna kepentingan tol,” terangnya.

Pihaknya berharap, jalan tol yang direncanakan bisa berfungsi pada Desember 2018 itu dapat segera selesai. Selain itu, pihaknya berharap pembebesan lahan untuk sesi 4 yakni mulai dari Leces hingga Gending, dapat  selesai akhir April. (radar)

Incoming search terms:

  • kepala tongas kulon