Browse By

Terbukti Tak Terlibat ISIS, Nadir Umar Akhirnya Dipulangkan

Diperiksa Gara-gara Visa

BANGIL – Setelah dipastikan tak terlibat jaringan ISIS, M. Nadir Umar akhirnya diperkenankan pulang. Kepulangannya  ke kampung halaman itu pun, disambut suka cita keluarga dan rekan-rekannya yang menyambut saat berada di Bandara  Juanda terminal 1.

Suasana haru pun menyeruak. Isak tangis istri Nadir, Sukriah, tak mampu dibendung, ketika melihat kembali  suaminya tercinta. Pelukan hangat berdatangan.  Tak hanya dari istri, tetapi juga teman-teman sejawat Nadir yang melakukan penjemputan tersebut.

Loading...

Tak hanya teman separtai, seperti M. Zaini, tetapi juga dari Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Sudiono Fauzan yang  turut menyambut kedatangannya. “Saya bersyukur, bisa bertemu dengan keluarga dan rekan-rekan saya,” ungkap Nadir saat  ditemui di kediamannya, kemarin (11/4).

Nadir mengaku, kepulangannya  memang sedikit terlambat dari jadwal sebelumnya. Ada persoalan cuaca buruk yang membuat pesawat yang membawanya  tak bisa segera lepas landas. Pesawat yang dijadwalkan terbang pukul 17.30 dari Jakarta  itu, ternyata baru berangkat sekitar pukul 19.30. Sehingga, ia  pun baru tiba sekitar pukul 21.30.

“Saya sampai rumah sekitar pukul 12 malam. Terus terang, saya  baru tidur satu jam sampai siang ini (kemarin, Red),” aku dia. Setelah pulang, ia pun langsung  menggelar jumpa pers di rumahnya yang ada di lingkungan Pandean, Kelurahan Kiduldalem,  Kecamatan Bangil, untuk mengklarifikasi apa yang sebenarnya  terjadi.

Ia meyakinkan, kalau tidak terlibat jaringan ISIS seperti yang banyak disampaikan  dalam pemberitaan. Penjemputan yang dilakukan oleh tim Mabes Polri lebih berkaitan pada persoalan administrasi visa. Ia pun memang sempat diperiksa di Mabes Polri dan sempat menginap di Rumah Perlindungan Sosial Anak Kementerian Sosial untuk deportan di Bambu Apus, Jakarta. 

“Sesungguhnya saat berada di Juanda, tidak ada penangkapan. Tetapi penjemputan. Dan catat, yang menjemput tidak menyebutkan dari Densus. Melainkan Mabes Polri. Saya dijemput untuk diperiksa terkait visa,” tambah dia.

Visa itulah yang membuatnya dideportasi ke Turki. Penyebabnya, visa yang digunakannya adalah Visa On Arrival. Sementara, Lebanon tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia untuk penggunaan visa tersebut. Karena merasa tak ada masalah, ia pun mengikuti permintaan untuk pemeriksaan tersebut.

“Petugas sopan dan sangat baik kepada saya. Bahkan, saya sempat di traktir makan soto,” akunya. Nadir menyampaikan, sudah memberi penjelasan kepada pihak terkait, berkaitan dengan kepergiannya ke Turki dan Lebanon. Hal itu dilakukan untuk menyampaikan amanah masyarakat yang mempercayakan kepadanya.

“Ada misi sosial, yang menjadi   amanah bagi saya oleh masyarakat. Mereka menginginkan saya dan  teman saya, Budi Mastur untuk menyerahkan secara langsung bantuan itu kepada pengungsi di Turki dan Lebanon,” sampainya.

Nadir berharap, persoalan ini tidak diperpanjang. Sebab, pihaknya mengaku capek dengan pemberitaan yang ada. “Saya anggap semuanya sudah klir. Kami berharap, tidak ada lagi  yang diperpanjang,” tandasnya. (radar)