Browse By

Darurat Peredaran Pil Dextro-Trex

Dinkes Akui Sudah Sering Sosialisasi Bahaya Dextro

KRAKSAAN – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Probolinggo menilai wilayah hukumnya sudah darurat peredaran pil Dextro dan Trihexyphenidyl (Trex). Pernyataan  itu, terungkap dalam pemusnahan barang bukti tindak  pidana umum di Kejari Kabupaten Probolinggo, kemarin.

Dari 17 perkara yang inkracht dan barang buktinya dimusnahkan didominasi perkara pelanggaran terhadap Undang- undang (UU) tentang Kesehatan.  Yakni, masalah peredaran sediaan farmasi berupa pil Dextro dan pil Trex.

Loading...

Dari data yang dihimpun Jawa  Pos Radar Bromo, dari 17 perkara yang sudah inkracht selama triwulan pertama tahun ini,  ada 6 perkara kasus sabu-sabu. Sedangkan, 11 perkara lainnya berupa kasus pelanggaran terha dap UU Kesehatan.

Barang bukti yang dimusnahkan kemarin, ada 4 gram sabu-sa bu, 18 unit handphone, 5.506  butir pil Dextro, dan 33.371  butir pil Trex. Semua barang bukti itu dimusnahkan dengan cara dibakar.  Kajari Kabupaten Probolinggo Nadda Lubis mengatakan, selama triwulan pertama tahun ini  ada 17 perkara yang sudah inkracht dan seluruh barang buktinya harus dimusnakan. Semua pekara itu terkait kasus sabu-sabu serta pil Dextro dan pil Trex.

“Saya menjadi Kajari, baru sekarang ini perkara yang disidangkan oleh Kejaksaan banyak kasus pelanggaran terhadap Undang-undang Kesehatan. Kami menganggap Kabupaten Probolinggo sudah masuk darurat peredaran pil Dextro dan Trex,” ujarnya.

Menurutnya, dari belasan perkara UU Kesehatan yang di tangani, harus menjadi perhatian masyarakat. Sebab, sasaran peredaran pil Dextro dan Trex ini para pelajar. Baik itu pe lajar tingkat SMA, SMP, bahkan SD. “Pengedar pil Dextro dan Trex itu ada yang masih di bawah umur, sekitar 16 tahun. Kondisi ini sudah sangat memprihatinkan,” ujar perempuan asal Medan itu.

Soal faktor makin maraknya peredaran pil Dextro dan Trex, Nadda mengatakan, peredaran sediaan farmasi ini makin marak karena mudah dijangkau dan  harganya murah. Sehingga, para pelaku terutama remaja  yang tidak mampu membeli  sabu-sabu, memilih membeli Dextro dan Trex.

Menurutnya, maraknya pemakai dan pengedar sediaan farmasi ini juga karena lepas dari pengawasan orang tua. “Instansi  terkait, seperti Dinas Kesehatan  harus gencar melakukan sosialisasi tentang bahaya Dextro dan Trex ini kepada masyarakat.  Supaya, pemakai dan pengedarnya tidak makin berkembang. Kami dari tim intelejen melalui  program jaksa masuk sekolah sudah menyosialisasikan kepada  para pelajar,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo Shodiq Tjanjono mengatakan, pil Dextro  dan Trex belum tentu dibeli di  apotek. Sebab, semua pil sejenis Dextro dan Trex sudah ditarik  oleh Pemerintah Pusat. Termasuk, persediaan di pelayanan kesehatan, seperti Dinkes, rumah  sakit, dan puskesmas.

“Kami  sempat memberikan sosialisasi kepada pelajar soal bahaya obat  itu,” ujarnya. (radar)