Browse By

Pasien DBD Meningkat, Didominasi Anak-Anak

Triwulan Pertama Capai 248 Pasien

KRAKSAAN – Triwulan pertama tahun ini jumlah kasus Demam Berdarah Dengeu (DBD) di Kabupaten Probolinggo, terus meningkat. Bahkan, pasien DBD yang menjalani rawat inap di RSUD Waluyo Jati Kraksaan meningkatkan di banding tahun lalu.

Dari data Jawa pos Radar Bromo, penderita demam berdarah di RSUD  Waluyo Jati pada triwulan 2017, meningkat hampir 100 persen dibanding tahun kemarin. Pada 2016, jumlah penderita DBD di RSUD Waluyo Jati Kraksaan tercatat ada 144 pasien. Sedangkan,  di awal tahun ini sudah 248 pasien.

Loading...

Humas RSUD Waluyo Jati Kraksaan Sugianto mengatakan, me ning katnya  jumlah penderita DBD karena faktor  cuaca. Pasien penderita DBD selama triwulan pertama tahun ini cukup tinggi. Kalau dibanding tahun sebelumnya, angka pasien penderita DBD mengalami kenaikan,” katanya, kemarin.

Sugianto mengungkapkan, saat ini penderita DBD didominasi anak-anak berumur 5-14 tahun. Jumlahnya mencapai sekitar 122 pasien. Sisanya di derita pasien berusia  dewasa. “Hampir semua pasien penderita DBD anak-anak,” ujarnya.

Untuk menekan jumlah penderita DBD, dikatakan Sugianto, RSUD Waluyo Jati Kraksaan akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo. Sebab, pihaknya hanya  bersifat defensif. ”Diperkirakan angka pasien DBD itu akan terus bertambah.  Sebab, di Kabupaten Probolinggo masih berlangsung musim hujan dengan intensitas hujan sedang hingga tinggi,”  ujarnya.

Sedangkan, Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo Sodiq Tjahjanto melalui Kabid P2PL Ari Suciati mengatakan, sesuai petunjuk Bupati Probolinggo, pihaknya sudah menggalakkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Program ini dilaksanakan mulai dari tingkat  kabupaten, kecamatan, desa, sampai masyarakat langsung.

Termasuk, pembentukan Gerakan Memberantas Sarang Nyamuk (Gemesnya) DBD. Yaitu, melalui mengubur, menguras, dan menutup plus abo te sasi (3M plus). Selain itu, pihaknya juga telah membentuk Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) di 22 kecamatan dan desa. Kecuali, kecamatan Sumber dan Sukapura yang bebas dari kasus DB.

“Ditambah terbentuknya Jumantik (juru pemantau jentik) di tiap desa. Jadi, mereka yang turun langsung ke masyarakat memantau jentik nyamuk. Sehingga, bisa diambil tindakan lebih cepat saat ditemukan jentik jamuk,” ujarnya. (radar)