Browse By

Ingat Pesan Guru Bela Diri untuk Simpan Napas

KEDIAMAN Muslimin, 42, di Dusun Wonogriyo, Desa Sruwi, Kecamatan  Winongan, Kabupaten Pasuruan, siang kemarin (10/4) tampak ramai.  Kerabat dan tetangga terlihat memenuhi ruang tamu berukuran 3×3 meter  itu. Maklum, mereka ingin menjenguk Fuad–sapaan akrabnya –, yang sebelumnya harus menjalani rawat  inap di RS Saiful Anwar Malang.

Dirawatnya Fuad di RSSA Malang tak lepas dari peristiwa yang nyaris saja merenggut nyawanya.  Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo, terlihat guratan wajah lelah pada bocah yang masih duduk di bangku kelas 6 MI Miftahul Ulum Sruwi itu.

Wajar saja, luka di kepalanya memang  masih belum sembuh total. Ia masih  dalam proses pemulihan usai menjalani dua kali operasi, yang dilakukan dalam kurun waktu 11 hari perawatan di rumah sakit. Meski begitu, kedua orang tua Fuad tak henti-hentinya memanjatkan  rasa syukur. Sebab, nyawa putra bungsunya itu masih dipelihara  Tuhan.

Loading...

Ia tak hanya menjadi korban  penembakan.  Bahkan, percobaan penghilangan nyawa juga dialaminya, setelah dibuang di bantaran sungai Porong, Sidoarjo. Insiden penembakan tersebut, dialami Fuad saat hendak bermain dengan dua temannya di  sebuah perkebunan tebu, tak jauh dari rumahnya.

Di sana, ia  bertemu dengan M Ghofar, 25,  yang merupakan tetangganya sendiri. Saat itu, Ghofar menenteng senapan angin hendak  berburu burung. Saat itu, Ghofar meminta agar Fuad tak mengikutinya. Untuk  menakut-nakutinya, tersangka  menodongkan senapan anginnya ke arah korban.

Maksud awalnya, hanya bercanda. Karena merasa tak ada peluru gotri di dalam senapan angin tersebut, tersangka pun menarik pelatuk.  Namun, betapa terkejutnya  tersangka. Karena saat pelatuk senapan angin itu ditarik, suara  letupan menyeruak keras dari  pucuk senjata yang dipegangnya.

Letupan itu pun diikuti gotri yang langsung bersarang di kepala  sisi kiri korban. Saat itu, Fuad  masih sadarkan diri. Ia bahkan dapat mengingat jelas, Bo, salah seorang temannya lari ketakutan setelah mengetahui ia terkena tembakan.

Seketika itu darah keluar dari  kepalanya. Hal itu membuat tersangka panik. Tersangka pun kemudian membawa korban ke  Puskesmas Winongan. Fuad memang sempat dilarikan ke Puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis.

Pihak puskesmas  pun mengarahkan agar korban dibawa ke rumah sakit untuk  dioperasi pengambilan gotri. Sayang, bukannya dibawa ke rumah sakit, korban justru dibawa pulang ke rumah tersangka. Karena takut menjadi bahan amarah orang tua korban, tersangka pun memilih untuk menangani sendiri.

Ia memandikan  korban dan mengajaknya berjalan-jalan. Hingga malam tiba. Tersangka tak kunjung mengantarkan korban ke rumah sakit ataupun pulang ke rumahnya. Sementara itu, kedua orang  tua Fuad merasa resah lantaran  anaknya itu tak pulang hingga menjelang malam.

“Saya minta  tetangga-tetangga keliling kampung untuk mencari, tapi tidak ketemu. Baru tahu keesokan harinya dari pihak kepolisian, katanya anak saya ada di Sidoarjo,”  terang Muslimin. Fuad sendiri, masih merasa shock  dengan rangkaian peristiwa yang  dialaminya waktu itu.

Ia mengaku, Ghofar membawanya ke rumah istrinya di Desa Turirejo, Kecamatan Rejoso, sepulangnya dari puskesmas sore itu. Nah, memasuki malam hari,  Ghofar mengajaknya untuk diantarkan pulang. Namun, Fuad dibuatnya bingung. Sebab, perjalanan yang mereka tempuh  dengan motor milik Ghofar itu, terasa sangat jauh. Hingga saat  ia meminta turun lantaran ingin  buang air di tepi sungai.

“Waktu saya pipis, langsung didorong,” ucapnya dengan nada datar. Saat itulah, ia memperjuangkan hidupnya di tengah derasnya arus sungai Porong. Tak berlebihan apabila yang diingat Fuad  saat itu ialah kedua orang tua dan guru-gurunya. Terutama  guru yang mengajarinya bela diri.

Ya, Fuad menerapkan betul bagaimana teknik pernapasan  yang diterimanya selama belajar  bela diri. “Jadi napasnya disimpan di bagian dada dan perut,” kata  Fuad. Hanya dengan cara seperti itulah, ia mempertahankan diri untuk tetap hidup meski nyawanya di tengah ancaman.

Bahkan, bocah itu mengaku, sekujur tubuhnya beberapa kali merasakan gigitan-gigitan kecil. Setelah beberapa jam terombang-ambing arus sungai,  tubuh Fuad menepi dengan sendirinya tepat saat menjelang  Subuh.

Dengan tenaga yang masih tersisa di tubuhnya, Fuad  pun menyusuri tepian sungai  dan berusaha mencari orang  untuk dimintai pertolongan. Saat itu, Fuad merasa dibuat  bingung. Pasalnya, tempat berpijaknya saat itu terasa asing baginya.

Ia sempat minta tolong  orang yang hendak ke Masjid,  tapi tidak dihiraukan. Sampai  kemudian ia bertanya pada ibu-ibu di warung, “Bu, tahu Desa Sruwi Winongan tah? Minta tolong saya diantarkan pulang,” beber Fuad mengulang perkataannya saat itu.  Kabar ditemukannya Fuad akhirnya sampai ke telinga Mus limin dan istrinya, Tri Handayani.

“Jam 7 pagi saya dengar kabar, ya kaget kok ketemu di Sidoarjo. Bagaimana ceritanya. Tapi Alhamdulillah, yang terpenting sekarang  masih selamat,” ungkap Tri. Hingga akhirnya, kasus itu berhasil diungkap Polres Pasuruan.

Fuad yang kritis kemudian di larikan ke RS Saiful Anwar setelah sebelumnya mendapatkan   rujukan dari RSUD Bangil. Petugas yang memperoleh informasi adanya kasus ini pun, bergerak untuk melakukan pengejaran terhadap tersangka. Hasilnya, didapati sepekan kemudian. Ghofar berhasil ditangkap  di Sidoarjo. (radar)