Browse By

Anggota DPRD Pasuruan Dijemput Densus 88

Jalani Misi Kemanusiaan di Turki, Lebanon, dan Suriah

JAKARTA – Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan bernama Muhammad Nadir Umar sempat dijemput Detasemen Khusus (Densus)  88 Antiteror di Bandara Juanda Internasional, Surabaya pada Sabtu (8/4) lalu, sekitar pukul 15.21.

Saat itu, Nadir Umar yang baru tiba dari Kuala Lumpur, Malaysia, menggunakan pesawat Air  Asia dengan nomor penerbangan  XT 327 itu, diduga berkaitan dengan ISIS. Tapi, dari pemeriksaan diketahui bahwa politisi PKS itu tak ada kaitannya dengan gerakan radikal tersebut. Hal itu ditegaskan Kepala Biro Penerangan  Masyarakat Divisi Humas Polri  Brigjen Rikwanto. 

Loading...

“Dia dijemput karena setiap deportan (orang yang dideportasi, Red) yang berhubungan  dengan Turki maupun informasi gerakan radikal dari pemerintah lain, biasanya diinformasikan ke Densus 88,” terangnya kemarin (9/4).

Nadir Umar diketahui terbang dari Turki ke Malaysia, baru kemudian bertolak ke Surabaya.  Di Surabaya dia langsung di jemput untuk dimintai keterangan. Dari keterangan diketahui, bahwa Nadir tidak sendiri saat ke Suriah. Ia bersama   Budi Mastur, aktivis LSM Forum Dakwah Nusantara (FDN), yang juga diperiksa saat tiba di Bandara Husen Sastra negara,  Bandung.

“Di sana (Suriah), keduanya menjadi relawan misi kemanusiaan, yang merupakan relawan dari Yayasan Qouri Umah. Rencana dana yang disalurkan oleh  yayasan ini, sebesar USD 20 ribu yang akan didonasikan kepada  para pengungsi di Turki dan  Lebanon,” papar dia.

Rikwanto juga menerangkan, bahwa kedua orang itu berangkat pada 31 Maret 2017 dengan rute Bandung-Kuala Lumpur-Istanbul untuk Budi, dan Surabaya-Kuala Lumpur-Istanbul untuk Nadir Umar. “Pada tanggal 1 April 2017,  keduanya sampai di Istanbul dan dijemput oleh perwakilan dari Qoirum Umah yang berada di Istanbul. Pada sore harinya, kemudian sempat mengunjungi  tempat pengungsian warga Palestina di Istanbul untuk penyaluran bantuan,” sambung dia.

Sehari sesudahnya, dua orang ini berangkat ke Gazianteb, untuk penyaluran bantuan dan  sore harinya dilanjutkan ke Kota Rayhanli (perbatasan Turki-Suriah). Setelah selesai melakukan penyaluran bantuan, keduanya menginap di kantor  cabang Qoiru Umah di Rayhanli, baru kemudian kembali ke  Istanbul.

Setelah itu, pada 4 April 2017, mereka berangkat ke Lebanon  dari Istanbul. Setelah sampai di  Lebanon, keduanya terkendala mengenai visa yang membuatnya dikembalikan ke Istanbul. Setelah sampai di Istanbul itulah, diketahui jika mereka telah memasuki daerah perbatasan. Keduanya kemudian diamankan oleh pihak Imigrasi.

“Pada tanggal 5 April, keduanya  diperiksa di RS Istanbul,” jelas nya. Usai diperiksa, keesokan harinya Nadir Umar dan Budi  dideportasi ke Surabaya dan  Bandung via Kuala Lumpur. “Sekarang masih diperiksa di RPSA (Rumah Perlindungan  Sosial Anak) Kemensos Bambu   Apus dan sedang dikoordinasikan. Begitu selesai interogasi,  akan dikembalikan ke keluarganya,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPD PKS Kabupaten Pasuruan, M.  Zaini mengatakan, tidak ada yang nyeleneh dalam keseharian rekannya tersebut. Nadir Umar  menurut Zaini memang aktif  dalam kegiatan keagamaan. Seperti pengajian ataupun bimbingan ibadah umrah.

“Ustad Nadir memang pembimbing ibadah umrah. Kalau tidak salah, ia memiliki mitra KBIH di Malang. Kalau di masyarakat dia memang aktif memberi pengajian-pengajian. Tapi,  kalau yang mengarah ke ISIS, kami rasa tidak. Makanya saya benar-benar tak percaya kalau  ia terlibat jaringan ISIS,” ujar pria   yang juga anggota DPRD tersebut.

Zaini sendiri tak mengetahui detail kegiatan Nadir Umar ke luar negeri. Menurut Zaini, Nadir Umar memang salah satu  petinggi partai. Ia menjabat Ketua Majelis Pertimbangan Daerah PKS Kabupaten Pasuruan.  Karenanya, pihaknya sudah  mengkomunikasikan hal ini  dengan jajaran internal partai, terkait langkah yang akan di tempuh.

Pihaknya juga sudah mengkomunikasikan persoalan ini dengan DPP PKS. Rencananya, pendampingan hukum yang  bersangkutan akan dilakukan.  “Kami tetap menerapkan asas praduga tak bersalah. Proses hukum biar ditangani tim Densus, sementara kami juga akan menyiapkan langkah advokasi,” harap dia.

Sementara itu, Jawa Pos Radar  Bromo sempat mengunjungi kediaman Nadir Umar atau yang biasa disapa Ustad Nadir ini. Namun, kondisi rumahnya tampak lengang. Rumah yang berada di lingkungan Wetan Alun,  Kelurahan Kersikan, Kecamatan Bangil, nomor 263 tersebut, tampak tak berpenghuni.  Selain pagar yang tertutup rapat, kaca rumahnya pun tertutup  gorden.

“Memang sejak beberapa hari terakhir, rumah Pak Ustad Nadir tampak kosong.  Kemana orangnya saya tidak tahu,” ungkap salah satu tetangga yang enggan namanya di korankan.  Yusuf Bahri, Ketua RT 2/RW 3 lingkungan Nadir tinggal mengaku, kalau Nadir merupakan salah satu tokoh di Kelurahan  Kersikan.

Ia menganggap, selama ini Nadir tergolong orang yang baik. Salah satu jalan yang  ada di lingkungan setempat, pun  termasuk buah kerjanya sebagai anggota dewan. “Orangnya baik sama warga.  Salah satu pembangunan jalan  di sini, merupakan hasil kinerjanya sebagai anggota dewan,”  tambah dia.

Ditanya mengenai keterlibatan Nadir dengan or ganisasi radikal, ia tak mengetahuinya. (radar)