Browse By

Polisi Bekuk Penjual Rokok Ilegal

Sebulan Omzet Tembus Puluhan Juta

KRAKSAAN – Peredaran rokok ilegal tanpa cukai di Kabupaten Probolinggo, berhasil diungkap. Selasa (4/4) lalu, Satreskrim Polres Probolinggo berhasil membekuk Hermansyah Hodiri, 33. Tersangka asal Kelurahan Sukoharjo,  Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, itu dibekuk di rumah kontrakannya di Desa/Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.

Saat dibekuk, kepolisian juga berhasil menyita rokok ilegal  dalam jumlah banyak. Tidak tanggung-tanggung, omzet penjualan rokok ilegal berbagai nama itu mencapai sekitar Rp  30 juta per bulan, dengan keuntungan 20 persen dari total penjualan atau sekitar Rp 6 juta tiap  bulannya.

Loading...

Penangkapan Hermansyah Hodiri yang kini sudah menjadi tersangka itu bermula dari aduan masyarakat. Informasinya, ada rokok ilegal yang dijual tanpa  dilengkapi cukai. Menindaklanjuti aduan dari masyarakat, akhirnya petugas kepolisian melakukan penyelidikan.

Ternyata benar, di rumah kontrakan tersangka Herman itu ditemukan sejumlah barang  bukti. Yaitu, rokok yang tidak di lekati pita cukai atau tidak dibubuhi tanda pelunasan cukai alias ilegal. Barang bukti yang diamankan mulai dari 62 pres  rokok berbagai merek.

Adapun merek rokok itu beragam, namun memang terbilang kurang  familiar di pasar. Sebut saja seperti Nego sebanyak 62 pres; 35 pres merek Abold; 60 pres merek Absolut; 89 pers merek Auora; 89 pres merek H2; 47 pers merek Yess; 35 pers merek Still; 10 pers merek Fans; 3 pres rokok merek Surya 9;  7 pres merek Seven; 33 lembar  bukti transfer; 6 lembar nota; dan 1 buku rekapan.

Tersangka Herman mengaku, dirinya melakoni menjual rokok ilegal itu sejak 2 tahun lalu. Dirinya mengetahui kalau menjual rokok ilegal itu dilarang.  Namun, dirinya membutuhkan pekerjaan untuk penghasilan.  Sehingga, dia memutuskan untuk mengambil rokok ilegal bermacam merek itu dari Pamekasan, Madura. Kebetulan, dirinya   mengetahui rokok ilegal itu pertama di Pamekasan, Madura.

”Sistemnya, saya dikirim barang,  kemudian saya jual sendiri (sales). Lalu hasil penjualan itu ditransfer,” katanya kepada Jawa  Pos Radar Bromo, kemarin.   Tersangka Herman menjelaskan, rokok bermacam merek itu  dijual ke warung atau toko rata-rata Rp 30 ribu sampai Rp 35  ribu tiap satu pres (isi 10 bungkus).

Biasanya, warung atau  toko itu menjual eceran ke pembeli Rp 5 ribu per bungkus. Nah, dirinya dapat keuntungan 10  persen dari penjualan.   Walau hanya 10 persen, omzet tiap bulannya yang bisa dia dapat mencapai puluhan juta.

”Saya dapat keuntungan 20 persennya. Biasanya tiap bulan (minimal) Rp 5 juta,” ujarnya. Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin melalui Kasat Reskrim AKP Hariyanto Rantesalu mengatakan, kasus penjualan rokok ilegal berawal dari laporan masyarakat.  Dari situ, pihaknya pun menindaklanjuti dan langsung menangkap tersangka Herman beserta sejumlah barang bukti.

”Tersangka Herman dijerat dengan pasal 54 jo 29 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai. Ancaman hukuman selama 5 tahun penjara,” tegasnya. Hasil dari pemeriksaan terhadap   tersangka, kata Herman, rokok ilegal itu didapat dari pabrik  inisial R di Pamekasan, Madura.

Tersangka Herman ini menjual rokok ilegal dengan cara sales sendiri ke wilayah Kota/Kabupaten Probolinggo. ”Barang bukti yang diamankan total berkisar 400 pres rokok berbagai merek,” terangnya. (radar)

Incoming search terms:

  • penjual rokok ilegal
  • penjualan rokok ilegal