Browse By

Polisi Gerebek Home Industry Kosmetik Ilegal

KRAKSAAN – Polres Probolinggo menggerebek industri rumah tangga yang memproduksi krim kecantikan ilegal di Desa Gading Wetan, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Senin (27/3) lalu. Dalam penggerebekan itu, polisi mengamankan  Nur Hasanah, 45 dan Supriatin, 40, yang selama ini menjalankan  bisnis tersebut.

Wakapolres Probolinggo Kompol Hendy Kurniawan mengatakan, kasus kosmetik ilegal ini terungkap berawal dari laporan masyarakat. Polisi mendapat informasi jika ada warga yang membuat krim kecantikan tanpa izin.

“Kami pun melakukan penyelidikan dan langsung menggerebek industri tersebut saat  terjadi aktivitas produksi krim kosmetik ilegal itu,” terangnya pada Jawa Pos Radar Bromo,  kemarin (30/3). Baik Nur Hasanah  maupun Supriatin kemudian ditetapkan menjadi tersangka.

Loading...

Selain mengamankan tersangka, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti. Mulai bahan pembuatan kosmetik maupun  peralatan meracik kosmetik.  Di antaranya, 36 mangkuk plastik berisi adonan krim wajah  warna putih; 23 mangkuk plastik  berisi adonan krim warna kuning; 2 kardus besar berisi plasenta yang menjadi salah satu bahan  krim; 7 plastik berisi krim yang sudah dikemas; 12 adonan berisi krim pencerah kulit; dan 1  kemasan pencerah kulit.

Kemudian, 1 buah vitamin wajah; 1 buah mesin mixer; 2  buah sendok makan; 5 kantong  plastik berisi kemasan plastik  kosong kosmetik; 14 kemasan krim racikan; dan 1 kardus wadah kosong pembersih badan. Menurut Kompol Hendy Kurniawan, keterampilan membuat krim kecantikan itu didapatkannya dari otodidak.

Sementara bahan-bahan yang didapat melalui online, sebagian dari teman-temannya. Bahan-bahan tersebut ia kemas sendiri untuk siap jual.  Meski dikatakan ilegal, namun  polisi mengaku belum mendapat pengaduan terkait dampak krim  tersebut.

Namun, polisi tetap  bisa menjeratnya karena aktivitas  mereka tak memiliki izin. Terlebih, keduanya tak memiliki keahlian di bidang tersebut. “Tersangka dijerat dengan pasal  196 dan pasal 197 tentang Undang- Undang Kesehatan. Ancaman  hukuman selama 15 tahun penjara,” tegasnya.

Meski begitu, kedua  tersangka tak ditahan dan hanya  menjalani wajib lapor. Selama ini, kedua pelaku mematok harga Rp 50 ribu untuk  satu kemasan kecil. “Omzet produksi kosmetik ilegal ini berkisar  Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta tiap  bulannya,” ungkapnya.

Pelaku pada polisi mengatakan, omzetnya kecil karena selama ini mereka tidak menjual bebas. Hanya pada teman dan kenalan saja. Sementara itu, tersangka Nur Hasanah mengatakan, ia menjalani bisnis tersebut sekitar 2,5 tahun yang lalu. Ia mengaku tak  mengetahui, jika aktivitasnya itu  melanggar hukum.

“Selama ini tidak ada keluhan dari pembeli  dan pemakai yang datang ke rumah saya. Jadi, kami pikir tidak masalah,” katanya. Apalagi, kedua  tersangka juga menggunakan krim tersebut. (radar)