Browse By

Curi Motor Takmir Musala, Pria Ini Babak Belur Dimassa

WINONGAN – Aksi main hakim sendiri terjadi Desa Bandaran, Kecamatan Winongan, dan Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Pada dua kejadian itu, dua pelaku pencurian mendapat bogem mentah  warga.

Selain harus babak belur, mereka juga bersiap dipenjara. Di Desa Bandaran, Kecamatan Winongan, Kabupaten Pasuruan, seorang pria bernama Ansori, 30, warga Desa Winosalam, Kecamatan Gondang Wetan, Kabupaten Pasuruan, dimassa lantaran mencuri sebuah motor Honda Vario milik Abdullah.

Motor milik korban diparkir di  belakang musala, dekat dengan lokasi makam Mbah Semendi.  Pelaku yang sebelumnya naik  ojek dari arah Ngopak itu, kemudian mendatangi motor dan beberapa kali mencoba menghidupkan mesin.

Loading...

Setelah berhasil menyalakan mesin motor, pelaku lantas berniat membawa motor ke arah timur. Beruntung, petugas Polsek Winongan tengah melakukan patroli bersama Tim Saber Begal  Polres Pasuruan. “Kebetulan subuh itu ada petugas yang patrol. Melihat gelagat  pelaku yang mencurigakan, petugas melakukan pengejaran,” kata AKP Handoyo, kapolsek Winongan.

Sekitar jarak 500 meter, pelaku berhasil ditangkap petugas. Pelaku kemudian digelandang petugas ke Mapolsek Winongan. Namun, massa masih sempat memberikan bogem mentah pada pelaku, saat digelandang  ke mobil patroli.

“Saat dimasukkan mobil, amuk massa memang tidak terkendali. Sehingga, sempat ada aksi pemukulan terhadap  pelaku, namun sesegera mungkin kami amankan,” imbuhnya.  Selain mengamankan pelaku, petugas juga membawa serta motor milik korban guna dijadikan sebagai barang bukti.

Kini,  selain memeriksa saksi-saksi,  petugas juga telah melakukan penahanan terhadap pelaku.  Tersangka dijerat dengan Pasal 363 KUHP tentang Pencurian dengan ancaman hukuman di  atas 5 tahun penjara. Handoyo  mengatakan, pihaknya kini melakukan pengembangan terkait  kasus tersebut. Menurutnya,   tersangka memang diindikasikan pernah melakukan hal yang  sama sebelumnya.

Sementara itu, Ahmad, 28, warga Desa/Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, juga menjadi bulan-bulanan massa. Itu, setelah dirinya tepergok membobol sebuah konter HP LA Cell, yang  berada di Jalan A. Yani, Kelurahan Petungasri, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, sekitar  pukul 04.30, kemarin (27/3).

Pria yang sehari-harinya menjadi pengamen ini, sejatinya tak membobol konter milik M. Amir  Farizal, 43, itu seorang diri. Melainkan dengan seorang kawannya yang berhasil kabur. “Pelaku pembobolan konter ini ada   dua orang. Namun, hanya satu orang yang tertangkap dan satu  orang lainnya berhasil kabur,”   jelas Kanit Reskrim Polsek Pandaan Iptu Agus Purnomo.  Kanit Reskrim mengaku, identitas dan ciri-ciri pelaku lainnya   sudah dikantongi.

“Satu pelaku yang kabur, inisialnya Pr beralamatkan di Surabaya. Sekarang  masih dikejar dan belum tertangkap. Pekerjaannya juga mengamen,” katanya.  Dalam peristiwa tersebut, Ahmad dan kawannya membobol konter dengan cara masuk ke atap genting dan merusak plafon menggunakan obeng. Keduanya berbagi peran. Ahmad yang   menjadi eksekutor.

Sementara  rekannya mengawasi lokasi. Setelah berhasil menggasak isi konter, Ahmad berusaha kabur melalui atap konter.  Ternyata, saat memanjat plafon, salah seorang karyawan konter yang dalam posisi tertidur, terbangun. Menyadari jika konter majikannya dimasuki orang tak  dikenal, ia langsung meneriaki pelaku.

Teriakan karyawan korban membuat suasana di tempat  kejadian perkara (TKP) gaduh. Warga yang berdatangan langsung mengamankan dua pelaku dan  menghajarnya. Sayangnya, seorang  pelaku berhasil kabur. “Pelaku yang tertangkap, posisinya berperan sebagai eksekutor. Sedangkan satu orang lain, berhasil kabur karena perannya menjadi pengawas dan  berada di luar,” ucapnya.

Beruntung, aksi main hakim sendiri itu tak sampai membuat korban tewas. Polisi yang mendapat kabar adanya maling  dimassa itu langsung menuju  TKP dan mengamankannya. Kini, Ahmad mendekam di Mapolsek Pandaan.

Petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti. Antara  lain, satu buah ponsel contoh;  empat dus HP, satu buah tas punggung warna hitam, dan satu  buah sarung sangkur. “Atas kejadian ini, pelakunya kami jerat dengan pasal 363 KUHP dan ancaman hukuman maksimalnya tujuh tahun penjara,” tegasnya.

Sementara itu, Ahmad pada koran ini mengaku baru pertama  kali melakukan aksi pencurian tersebut. “Terpaksa saya lakukan karena kepepet. Saya butuh uang  untuk kebutuhan sehari-hari,  sekaligus buat pulang ke kampung,” katanya. Wajahnya terlihat  luka lebam dan juga memar di  punggungnya. (radar)