Browse By

Arak Ogoh-ogoh sebelum Dibakar

TOSARI – Seluruh umat Hindu yang berasal  dari suku Tengger di lereng Gunung Bromo, merayakan ritual Tawur Kasanga. Itu, merupakan salah satu ritual yang diyakini untuk melawan hawa nafsu negatif yang berasal dari alam maupun dalam diri  manusia.

Ritual itu juga merupakan bagian dalam menyambut Tahun Baru Saka 1939.  Rangkaian perayaan tersebut diawali dengan pawai ogoh-ogoh dari 9 desa di Kecamatan Tosari dan satu desa di Kecamatan Puspo. Pawai yang diiringi kesenian musik Baleganjur itu, kemudian berakhir di lapangan Tosari  untuk melakukan ritual persembahyangan kepada Syah Hyang Widi.

Terhitung sebanyak 38 ogoh-ogoh dalam berbagai bentuk yang melambangkan sifat angkara murka, diarak dari masing-masing desa. Di Kecamatan Tosari, terdapat  9 desa yakni Wonokitri, Sedaeng, Tosari, Podokoyo, Baledono, Kalitejo, Mororejo, dan Kandangsari.

Loading...

Sedangkan di Kecamatan Puspo, hanya Desa Keduwung saja yang  turut dalam pawai tersebut. Ogoh-ogoh yang diarak kemarin, tampak mencerminkan  berbagai simbol kejahatan. Salah satu di antaranya menggambarkan seorang dalang yang  tengah memegang wayang.

“Itu  merupakan gambaran bahwa  kekacauan di negeri ini beberapa waktu terakhir, ada dalang  di balik itu semua. Dengan dijadikan sebagai ogoh-ogoh, kepercayaan kami akan dapat musnah,” terang Dharma Singgih, sekretaris Parisada Hindu  Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Pasuruan.

Sepanjang pawai, sejumlah seniman Baleganjur memang terus memainkan alunan musik khas Bali itu. Pawai ogoh-ogoh kemudian disambut Romo Dukun Pandita Eko Warnoto. Setelah seluruh umat berkumpul, Dukun Pandita Eko Warnoto kemudian memimpin upacara  Pencaruhan Agung.

“Upacara tersebut dilakukan  sebagai upaya yang dilakukan umat  Hindu untuk membersihkan diri  dari pengaruh jahat. Baik yang berasal dari alam, maupun dari  diri manusia itu sendiri,” terangnya. Usai melakukan upacara tersebut,  pawai ogoh-ogoh akan kembali dilakukan ke masing-masing desa, baru kemudian dibakar.

Setelah  prosesi pembakaran yang biasa  dilakukan malam hari itu, kemudian dirayakan Nyepi. Hadir dalam upacara Pancaruhan Agung itu, Wakil Gubernur  Jawa Timur Syaifullah Yusuf serta Bupati Pasuruan  M Irsyad Yusuf.

Gus Irsyad–sapaan akrabnya–memberikan apresiasinya  atas upaya warga Tengger dalam menjaga tradisi dan budaya leluhur agar lestari. Di sisi lain, semarak menjelang  perayaan Nyepi tahun ini juga berlangsung di kawasan Yonkav  8 Kostrad Beji.

Hal itu terlihat  dari kegiatan arak-arakan ogoh-ogoh. Mereka tak lelah meski harus berjalan lebih dari 200 meter di kawasan Yonkav. Tak hanya orang dewasa, sejumlah anak-anak pun seolah  tak mau ketinggalan. Sebuah  ogoh-ogoh raksasa diangkat beramai-ramai oleh kalangan  dewasa.

Sementara, anak-anak turut mengangkat ogoh-ogoh. Hanya saja, ogoh-ogoh yang mereka angkat, tergolong mini. Ketua Pengempon Pura Tirta Wuluh Suropati, Pelda Ketut Wijana menyampaikan, kegiatan  tersebut merupakan rangkaian   dari perayaan Nyepi.

“Arak-arakan ogoh-ogoh ini untuk menetralisir unsur negatif. Ogoh-ogoh raksasa  Buta Kala diarak untuk menetralisir unsur-unsur negatif, kemudian dibakar. Maksudnya agar  kembali ke alamnya masing-masing dan biar damai,” jelasnya.

Kegiatan tersebut, memang  merupakan bagian dari rangkaian Nyepi. Karena pasca kegiatan tersebut, umat Hindu akan menjalankan ibadah Nyepi. Dimana, ada empat hal yang disebut catur barata penyepian. Empat pantangan itu, yakni  amati geni (api), amati lelungan  (bepergian), amati karya (bekerja), dan amati lelanguan  (keindahan). “Kami diwajibkan  menjalankan puasa,” sambungnya. (radar)