Browse By

Ngelas Tangki, 5 Karyawan PT Indopherin Pingsan

Diduga Kehabisan Oksigen

KADEMANGAN – Lima karyawan PT Indopherin Jaya yang beralamat di Jalan Brantas, Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, ditemukan lemas di dalam sebuah tangki yang akan digunakan sebagai tempat penampungan bahan kimia, kemarin (25/3).

Diduga, mereka kehabisan oksigen sehingga pingsan.  Menurut informasi yang dihimpun  Jawa Pos Radar Bromo, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 07.25. Saat itu, sejumlah karyawan diminta untuk ngelas tangki baru. Namun, satu persatu karyawan yang membersihkan tangki tersebut lemas dan kemudian pingsan.

Loading...

Total ada 5 karyawan yang pingsan di dalam tangki yang belum diketahui ukurannya tersebut. Mereka kemudian  dilarikan ke RSUD dr Mohamad Saleh untuk menjalani perawatan. Dari 5 karyawan tersebut, 2 orang dirawat di Intensive Care Unit (ICU),  satu orang dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD), dan 2 orang lainnya diperbolehkan pulang.

Nama-nama pekerja yang dilarikan ke RSUD antara lain, Helmi, 33, warga Pesona Candi Sekargading, Pasuruan; dan Khoirul, 35, warga Pasuruan. Keduanya dirawat di ICU. Kemudian ada Suparman, 45, juga warga Pasuruan. Ia dirawat di  IGD. Sedangkan dua karyawan lainnya, yakni Khoirul Ibad, 21, warga Desa Sumberbulu, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo (Pulang), dan Dian  Dwi, 34, warga Jalan Panglima   Sudirman, Kota Probolinggo, sudah diperbolehkan pulang.

Suparman, salah satu karyawan mengatakan, semula ada dua temannya yang sudah berada di dalam tangki untuk ngelas. “Awalnya teman saya ngelas di dalam tangki. Tangki itu untuk bahan  kimia. Tiba-tiba dia tidak sadarkan  diri,” ujar sambil terbata-bata.

Setelah tahu ada yang pingsan, seorang lagi teman kerja Suparman mencoba menolong dengan cara masuk ke dalam tangki. Nasib karyawan kedua tersebut,  juga sama dengan karyawan pertama, pingsan. Melihat kejadian itu, Suparman berniat ingin menolong kedua rekannya.

“Setelah itu saya masuk kesana dan tiba-tiba sudah tidak sadarkan diri. Bangun-bangun sudah disini,” ujarnya. Diduga, dua karyawan lainnya juga punya niatan sama dengan Suparman,  yakni ingin menolong. Namun, mereka kehabisan oksigen sehingga juga ikutan pingsan.

Saat disinggung penyebab pingsan, apakah karena keracunan bahan kimia atau kehabisan oksigen, Suparman menyakini  bahwa pingsannya karena kehabisan oksigen. “Sepertinya kita kehabisan oksigen, bukan keracunan. Tangki itu masih baru dan belum dipakai untuk bahan  kimia. Rencananya masih akan diuji coba,” jelasnya.

Sementara itu, saat mencoba untuk melihat ke ICU, salah satu karyawan perusahaan yang  berada di ICU, melarang awak media untuk mengetahui kondisi korban. Mereka juga enggan memberikan komentar terkait  peristiwa yang baru saja dialami  rekan kerjanya tersebut.

“Ngapain lapor polisi. Ini kan sudah diselesaikan dengan baik- baik. Tidak perlu lah lapor polisi. Yang penting karyawannya dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan, ” ujar karyawan tersebut sambil melarang  wartawan meliput.  Jawa Pos Radar Bromo kemu-  dian mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP). Namun,  tidak diperkenankan masuk oleh salah sekuriti bernama Gunawan.

Alasannya, karena belum ada izin dari perusahaan. Saat mengutarakan maksud untuk bertemu dengan Yuliadi, manajer PT Indopherin Jaya, Gunawan menyebut jika yang bersangkutan sudah pulang usai mengantar karyawan ke rumah sakit. Namun, Gunawan membenarkan jika ada peristiwa pingsannya karyawan pabrik. Namun lokasinya bukan di PT Pamolite Adhesive Industry (PAI).

“Memang ada karyawan yang pingsan, tapi lokasinya di Indopherin yang berada di satu kompleks,” ujarnya. Menurut Gunawan, peristiwa  tersebut terjadi sekitar pukul 07.25.  Lima karyawan yang pingsan  langsung dibawa ke rumah sakit, dengan menggunakan mobil dinas dari PT Indopherin.

“Salah satu karyawan sedang  ngelas tangki. Kemudian dia  pingsan. Ada karyawan lain yang masuk buat nolong, juga pingsan. Seperti itu sampai 5 karyawan pingsan,” ujarnya. Tangki tersebut digunakan sebagai tempat  untuk menampung bahan kimia,  yang akan menjadi bahan baku lem.

Biasanya, setiap tangki selalu dikontrol kondisinya. Yuliadi sendiri hingga berita ini  ditulis tadi malam, belum memberikan keterangan. Nomor ponsel  yang dimiliki koran ini, tak aktif.  Terpisah, Kasat Reskrim Polres Probolinggo Kota, AKP Suwancono mengaku belum mengetahui peristiwa pingsannya  karyawan PT Indopherin Jaya  tersebut.

“Belum ada laporan.  Tapi nanti kita akan pantau dengan menerjunkan anggota ke rumah sakit,” ujarnya. Sementara itu, Ninuk Sri Lestari, pengawas tenaga kerja di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker)  Pemprov Jatim, belum bisa memberikan komentar terkait peristiwa tersebut.

“Saat ini masih dalam penyelidikan tim pengawas. Sampai kapan penyelidikannya masih belum tahu. Yang jelas perisitwa itu bukan terjadi  di PT PAI, namun di PT Indopherin,” terangnya. (radar)

Incoming search terms:

  • rsud dr mohamad saleh probolinggo