Browse By

Aksi Solo Bakar Almamater

PROBOLINGGO – Apa yang dilakukan Suhadak benar-benar nekat. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Panca Marga (UPM) ini kemarin beraksi solo. Dia membakar almamaternya lantaran kecewa dengan manajemen di kampus  karena diduga melakukan penyelewengan.

Aksi tunggal itu kemarin dilakukannya mulai pukul 15.00 di  depan pintu masuk kampus. Solo aksi itu dipicu lantaran banyaknya mahasiswa teknik dan  ekonomi yang mengeluh biaya kegiatan mahasiswa (BKK), salah satunya adanya penarikan  uang Rp 10 ribu tiap mahasiswa  yang ditujukan untuk kegiatan Disnatalis.

Padahal, kata Suhadak, tiap  bulannya sudah ada dana penarikan Rp 15 ribu untuk tiap mahasiswa yang diperuntukan  untuk BKK. Namun, kegiatan  Disnatalis yang merupakan kegiatan kemahasiswaan kenapa juga masih dilakukan penarikan lagi.

Loading...

“Uang BKK yang kami bayar dipergunakan untuk apa? Jangan-jangan dikorupsi,” terang mahasisswa semester 6 fakultas FKIP jurusan PGSD itu. Menurutnya, mediasi sudah dilakukan antara mahasiswa dengan kampus. Tapi, tidak ada ujung atau hasil yang pasti. Sehingga, dia mengaku terpaksa  melakukan aksi tunggal tersebut.

“Saya lakukan aksi ini secara tunggal. Sehingga tidak semua  anggota BEM yang ikut aksi ini. Saya meminta kejelasan atau trasparansi keuangan dan data, termasuk pengembalian dana di luar BKK yang telah dibayarkan mahasiswa ekonomi, “beber   Suhadak.

Dalam aksi itu, Suhadak sempat nyaris bentrok dengan petugas sekuriti di kampus. Pasalnya, keinginannya membakar  ban bekas, mendapat pelarangan. Saat dia berorasi, ada dua ban yang digelontorkan, dengan maksud akan dibakar.

Sayangnya, sekuriti yang ada langsung mengamankan ban bekas tersebut. Tak ada ban bekas, almamater pun jadi sasaran. Dia membakar  almamater kebanggaanya itu  lantaran bentuk kekecewaannya  terhadap universitas.

Dia pun sudah punya pertimbangan akan aksi tersebut.  Termasuk studinya untuk menjadi meraih strata satu, yang   bisa saja terganjal. Seperti tidak  keluarnya nilai atau hal-hal yang  berkaitan dengan kampus atau kuliahnya dipersulit.

Di sisi lain, Wakil Rektor III  Bidang Kemahasiswaan Abdul Halim ikut menimpali terkait  dengan aksi salah satu mahasiswanya tersebut. Pihaknya tidak mempermasalahkan, lantaran tiap mahasiswa memiliki hak dan kewajiban.

Namun, berbicara kewajiban, mahasiswa seharusnya menjaga nama baik almamater. Jangan sampai mengejek, termasuk membakar almamater yang  menjadi identitas kampus.  Dalam aksi tersebut, kata Abdul Halim, ada perkataan yang tidak pantas.

Seperti dosen yang dikatai monyet dan yang lainya. Sehingga, atas aksi Suhadak, pihaknya akan berkoordinasi dengan jajaran manajemen kampus. Terutama terkait dengan  pelanggaran yang diduga sudah  dilakukan Suhadak.

“Untuk aksinya, hak mahasiswa jadi tidak masalah. Namun, sesuai dengan aturan dan ketentuan yang ada, ada pelanggaran  di dalamnya. Tentunya akan diproses. Seperti mengolok-olok  dosen seperti monyet dan membakar almamater,” terangnya.

Pihaknya juga belum bisa memutuskan sanksi apa yang akan  diberikan. Ini, lantaran kampus  harus tetap mengacu pada pedoman yang ada. Sehingga, masih akan dirembuk sesuai dengan proses yang ada.  “Jika mahasiswa saya sampai   mengatakan dosennya seperti  monyet, maka saya merasa saya  yang gagal dalam mendidik mereka,” terangnya.

Untuk masalah BKK seperti yang dituangkan Suhadak, kata Abdul Halim, tiap kegiatan pasti ada laporannya. Sehingga, uang BKK tetap terkontrol dan tidak diperuntukan untuk lainnya. Begitu pula dengan disnatalis,  Fakultas Ekonomi yang sudah  melakukan kegiatan tersebut beberapa tahun tidak ada masalah.

Penarikan Rp 10 ribu tiap mahasiswa yang diperuntukan untuk disnatalis, lanjut Abdul Halim, kemungkinan fakultas punya pertimbangan lain. Bisa jadi dana BKK yang dikeluarkan tiap ada kegiatan mahasiswa,   tidak cukup untuk disnatalis. Sehingga,  untuk disnatalis dilakukan penarikan Rp 10 ribu per mahasiswa.  Menurut Abdul Halim, baru kali ini dipermasalahkan.

“Jika dipandang aksi tersebut mewakili mahasiswa, maka saya anggap tidak.  Sebab, hanya satu mahasiswa saja yang melakukan aksi tersebut.  Siapa tahu juga ada tedensi dari luar,” terangnya. (radar)

Incoming search terms:

  • upm suhadak