Browse By

Terdakwa-JPU Kompak Banding

Sidang Vonis Pembunuhan Sultan Padepokan

KRAKSAAN – Sidang kasus dugaan pembunuhan terhadap dua mantan Sultan Agung Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, yakni Ismail Hidayah dan Abdul Gani, memasuki babak akhir. Dalam sidang dengan agenda  putusan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan, kemarin (16/3), ketujuh terdakwa dinyatakan terbukti bersalah oleh majelis hakim.

Ketujuh terdakwa divonis dengan hukuman berbeda. Dimulai pembunuhan terhadap korban Abdul Gani dengan empat terdakwa. Dari keempat  terdakwa itu, tiga terdakwa divonis masing-masing hukuman 20 tahun penjara. Yakni, terdakwa Wahyu Wijaya, Kurniadi,  dan Wahyudi.

Loading...

Sedangkan terdakwa Achmad Suryono, divonis hukuman selama 10 tahun  penjara. Sementara pembunuhan terhadap korban Ismail Hidayah, ada lima terdakwa yang juga  divonis hukuman berbeda. Dua terdakwa divonis hukuman 20  tahun penjara. Yakni, Wahyu  Wijaya dan Tukijan. Sedangkan terdakwa Mishal Budianto, divonis hukuman 15 tahun penjara, terdakwa Suwari 10 tahun penjara, dan Achmad Suryono divonis hukuman 12 tahun  penjara.  

Sidang agenda pembacaan putusan yang digelar pertama adalah pembunuhan terhadap  korban Abdul Gani. Yudistira Alfian sebagai ketua majelis hakim mengatakan, keempat terdakwa pembunuhan terhadap  korban Abdul Gani, dianggap terbukti secara sah dan meyakinkan, melakukan tindak pidana pembunuhan berencana  terhadap korban.  

Hal itu disesuaikan dengan dakwaan primer, pasal 340 KUHP dan pasal 55 KUHP ayat (1) ke-1 tentang Pembunuhan Berencana. “Terdakwa Wahyu Wijaya, terdakwa Kurniadi, dan terdakwa Wahyudi, masing-masing divonis dengan hukuman  selama 20 tahun penjara. Sedangkan terdakwa Achmad Suryono divonis dengan hukuman  10 tahun penjara,” katanya. 

Unsur pembunuhan berencana dikatakan Yudhistira, sudah terbukti dalam persidangan. Dimana, ada keinginan para  terdakwa sebelumnya untuk menghabisi korban Gani. Karena korban dianggap dan dikhawatirkan menghambat proses pencairan di Padepokan Dimas Kanjeng. Selain itu, ada tempo waktu  antara keinginan melakukan  pembunuhan dengan waktu eksekusi.

“Nah, tempo waktu itu  tidak digunakan oleh terdakwa untuk membatalkan atau menggagalkan keinginannya untuk membunuh korban Gani,” ungkapnya. Yudistira yang juga menjabat Humas PN Kraksaan menjelaskan, dalam pengambilan keputusan terhadap para terdakwa, pihaknya mempertimbangkan  hal yang memberatkan dan meringankan.

Hal yang memberatkan, terdakwa tidak mengakui  dan tidak menyesali perbuatannya. Ditambah, tidak ada pengampunan dari keluarga korban Gani. “Sedangkan hal yang meringankan, para terdakwa bersikap sopan selama persidangan. Kemudian, tiga terdakwa (Wahyu  Wijaya, Kurniadi, dan Wahyudi, Red) pernah bergabung dalam  operasi militer membela negara saat berdinas menjadi TNI,” terangnya. 

Setelah amar putusan dibacakan, majelis hakim pun mempersilakan para terdakwa untuk mengajukan banding atau menerima atas putusan tersebut.  Terdakwa lantas berdiskusi sejenak, mereka kemudian memutuskan untuk mengajukan banding.

Tak hanya terdakwa, Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga  mengajukan banding atas putusan majelis hakim tersebut.  Muhammad Usman, yang bertindak sebagai JPU mengatakan,  putusan majelis hakim menurutnya sejalan dengan tuntutan. Dimana, majelis hakim telah  menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pembunuhan berencana.

Sebagaimana yang tertuang dalam dakwaan primer maupun pasal yang dibuktikan dalam tuntutan. “Vonis majelis hakim sudah sesuai dengan dakwaan. Tapi,  vonis hukuman majelis hakim  belum sesuai dengan tuntutan  hukuman seumur hidup yang kami ajukan dalam sidang sebelumnya,” katanya.

Karenanya, Usman juga mengajukan banding. Ia  berharap putusan majelis hakim di Pengadilan Tinggi (PT) Jatim  nantinya sesuai dengan tuntutannya. “Kalau terdakwa mengajukan banding, itu merupakan hak  terdakwa,” ujarnya.

Setelah sidang pembunuhan  Abdul Gani, agenda sidang dilanjutkan dengan sidang pembunuhan Ismail Hidayah. Sama halnya sidang sebelumnya, Muhammad Syarifuddin sebagai ketua majelis hakim mengatakan, para terdakwa terbukti bersalah melakukan pembunuhan terhadap korban Ismail Hidayah. Kelima terdakwa dianggap terbukti melanggar pasal 340 KUHP dan  pasal 55 KUHP ayat (1) ke-1.

“Unsur pembunuhan berencana dan turut serta, terbuktikan. Terdakwa terbukti bersalah secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana,”  tegasnya. Atas putusan majelis hakim tersebut, para terdakwa  dan JPU juga kompak mengajukan banding.

Sementara itu, Penasihat Hukum (PH) para terdakwa, Muhammad Sholeh mengatakan,  putusan majelis hakim atas dugaan kasus pembunuhan terhadap korban Abdul Gani dan  Ismail Hidayah yang menjerat kliennya, dianggap terlalu berat.

Selain itu, putusan majelis hakim dianggap tidak memenuhi rasa keadilan.  Sholeh menegaskan, dalam fakta persidangan, tidak ada fakta yang jelas mengungkapkan kliennya terlibat dan turut serta melakukan pembunuhan tersebut.

“Kami mengajukan banding atas putusan majelis hakim. Sebab, putusan itu tidak memenuhi  rasa keadilan. Para terdakwa tidak pernah mengakui perbuatannya, fakta sidang tidak  ada yang mengungkapkan jelas  para terdakwa yang membunuh,”  jelasnya. (radar)