Browse By

Pernah Ditahan di Era Soeharto karena Tuduhan Makar

SETIAP Kamis, Pengadilan (PN) Negeri Kraksaan selalu ramai pengunjung. Hal itu bukan tanpa sebab, kasus yang disidangkan merupakan kasus yang menjadi isu nasional. Yakni, sidang terkait pembunuhan pada Ismail Hidayah dan Abdul Gani.

Dua mantan pentolan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Diduga, keduanya dibunuh orang-orang yang  dulu menjadi kawannya. Yang membuat kasusnya menjadi  heboh, ketujuh orang yang diduga membunuh keduanya, bergerak atas perintah pemilik padepokan yakni  Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Hampir pasti saat sidang berlangsung, ratusan pengikut padepokan akan hadir di tempat sidang. Saat sidang, seluruh perangkat sidang pasti akan disorot peserta sidang maupun kamera wartawan. Nah, salah satu pihak yang menjadi sorotan  saat sidang berlangsung, salah satunya pengacara.

Loading...

Tentu, dalam hal ini nama Muhammad Sholeh lah yang dimaksud. Sebagai penasihat hukum terdakwa, ia tampak mati-matian membela kliennya agar terlepas dari jerat hukum. Keputusannya menjadi pengacara, tidak lepas dari aktivitasnya selama ini di dunia kampus.

Menyandang predikat sebagai mahasiswa di tengah gonjang- ganjing pemerintahan dua dekade silam, Sholeh juga terlibat dalam kegiatan mahasiswa yang mengkritik Presiden Soeharto. Bahkan, gara-gara aktivitasnya  itu, pengacara kelahiran 2 Oktober 1976 silam itu harus merasakan pengapnya dinding penjara.

Itu, setelah dirinya dituduh makar karena seringkali mengikuti aksi menentang presiden ke dua tersebut. Periode itu terjadi  pada tahun 1996 silam. Saat itu, Sholeh masih duduk di bangku  semester V Fakultas Ilmu Sosial  dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Selama proses peradilan atas  kasus subversif tersebut, penasihat hukumnya merupakan  nama-nama hebat. Seperti, pendiri Lembaga Bantuan Hukum (LBH), almarhum Adnan Buyung  Nasution; aktivias Hak Asasi Ma-  nusia (HAM), almarhum Munir Said Thalib; dan eks pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK), Bambang Wijayanto.

“Saat saya diadili itu, saya melihat menjadi pengacara itu enak. Bisa berbicara soal hukum,” katanya pada Jawa Pos Radar Bromo, kemarin (15/3). Gara-  gara kasus tersebut, putra pasangan suami-istri (pasutri) H. Fauzi Isban dan Hj. Muslikha,  itu divonis bersalah oleh majelis hakim.

Sholeh mengaku dijatuhi hukuman selama 4 tahun.  Namun, ia hanya menjalani 2  tahun 15 hari dan bebas pada  23 Juli 1998. Ia bebas 42 hari dari saat Soeharto mengundurkan diri sebagai presiden. Saat itu, Sholeh mendapat amnesti dari Presiden Habibie.

Pengampunan yang sama juga diberikan pada semua tahanan politik semasa Soeharto berkuasa. “Ketika dalam penjara, saya mempelajari ilmu hukum pidana. Selesai dari penjara, kuliah pindah fakultas hukum dan mulai bergerak di bidang hukum,”  terang bapak 6 anak itu.

Sholeh mengaku, selama menjadi pengacara sejak tahun 2002  lalu, sudah banyak perkara pidana, perdata, maupun gugatan  yang ditangani. Termasuk beberapa kali berhasil memenangkan gugatan Undang-Undang (UU)  di Mahkamah Konstitusi (MK).

Paling fenomenal, yakni keberhasilannya menggugat UU Pemilu Legislatif yang awalnya mencoblos partai politik (parpol), di ubah  mencoblos nama calon legislatif (caleg), pada tahun 2008 lalu. Sholeh mengaku, awal kali menangani kasus yang menimpa padepokan, bermula saat istri Mishal Budianto, terdakwa kasus pembunuhan terhadap Ismail  Hidayah itu, datang ke Surabaya  untuk mencari pengacara.

Pengakuan istri Mishal, ia mencari pengacara yang berani melawan pemerintah maupun penegak hukum. Kebetulan, Sholeh sering menangani kasus yang melibatkan negara. Seperti kasus tidak adanya kantor polisi di Bandara Juanda, Sidoarjo.

Saat itu, Sholeh  menggugat presiden, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), dan Kapolri. Termasuk, kasus matinya tahanan di Polres Sidoarjo. “Saya bersedia dan tertarik untuk menangani kasus padepokan ini karena saya melihat kasus ini  menarik. Dalam prosesnya, banyak terjadi pelanggaran hukum.

Misalnya, penangkapan yang diwarnai aksi kekerasan. Saat di tangkap, juga tidak didampingi lawyer. Padahal, sekarang eranya sudah terbuka. Seharusnya, sudah tidak ada lagi kasus seperti itu. Faktanya, reformasi kepolisian  belum selesai, proses kekerasan  masih saja terjadi,” ungkap suami Nur Ana Arfianti itu.

Diakui Sholeh, ketujuh terdakwa yang menunjuk dirinya sebagai kuasa hukum, sempat mencabut kuasanya. Saat itu, kuasa sebagai pengacara dialihkan pada Andi Faisal. Entah alasannya kenapa, terdakwa kembali memberikan kuasa hukum pada dirinya.

“Saya bekerja tidak berdasarkan omongan dan janji. Tapi, apa yang telah  kami lakukan selama 15 tahun,  itu yang ditawarkan (pada klien,  Red),” ujarnya. Dalam perkara yang juga melilit Dimas Kanjeng Taat Pribadi,   Sholeh yakin jika Taat Pribadi akan bebas dari segala dakwaan.

Sebab, tidak satu pun saksi yang bisa menyatakan keterlibatan kliennya tersebut. Sementara polisi menurutnya, hanya mendasarkan pada Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tersangka lain, yang sejak awal BAP-nya sudah  ditolak di dalam persidangan.

Sebab, dalam penyusunan BAP itu, ia tuding ada unsur pemaksaan maupun kekerasan saat penangkapan. Maka, ketika tidak ada satu saksi  pun yang bisa menyatakan peran Taat Pribadi dalam kasus pembunuhan Abdul Ghani, ia meminta kliennya dibebaskan.

“Kalau padepokan, semua kasus  fenomenal. Lebih-lebih, puluhan ribu atau sekitar 23 ribu pengikut padepokan yang ada di nusantara ini, hampir semua masih yakin terhadap Taat Pribadi. Padahal, sejak awal sampai sekarang, belum ada bukti pencairan sama sekali pada para pengikutnya,” ungkapnya.

Menjalani kesibukan sebagai pengacara, tak membuat Sholeh melupakan kewajibannya untuk berkumpul bersama keluarga. Ia tetap meluangkan waktu bagi istri dan keenam anaknya,  yakni setiap akhir pekan. Jadi, setiap Sabtu dan Minggu, Sholeh  yang pernah mondok di Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng Jombang, itu fokus berkumpul  dengan anak-istri.

Apalagi, sang anak juga sempat melayangkan protes karena kesibukan Sholeh. Selain itu, meluangkan waktu untuk hadir dalam majelis taklim juga menjadi aktivitasnya. “Sekarang saya masih aktif mengaji seminggu dua kali  di Pesantren Singa Putih Munfaridin, Prigen, Pasuruan. Jadi, prinsip saya pekerjaan juga harus diimbangi dengan ibadah dan keluarga,” paparnya. (radar)

Incoming search terms:

  • podokpesantrensingaputihprigenpasuruan
  • Ponpes singa putih munfaridin