Browse By

PAD Berkurang, Usulkan Buka Lagi Pop City

Potensi PAD  Berkurang Rp 18 Jutaan

PROBOLINGGO – Tutupnya tempat karaoke keluarga Pop City selama hampir satu bulan, berimbas pada perolehan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Probolinggo. Selama Pop City tutup, PAD dari sektor hiburan diperkirakan akan berkurang  sekitar Rp 18 jutaan.

Karena kondisi ini, Ketua Komisi B DPRD Kota Probolinggo Rano Cahyono mengusulkan, agar Pop City diizinkan buka lagi. Dengan syarat, tempat karaoke di Jalan dr. Soetomo itu telah melengkapi sarana dan prasarana sesuai  anjuran tim pengawas.

Loading...

Politisi Golkar ini lantas menjelaskan, PAD dari tempat hiburan ditargetkan Rp 511 juta setahun. Sedangkan sampai 1 Maret realisasinya mencapai Rp 91 juta.  Dengan rincian, Januari mencapai Rp 39,39 juta. Lalu, Februari besarnya Rp 42,191 juta dan sampai 1 Maret tercatat Rp 9,5 juta.

Menurutnya, Pop City sendiri tiap bulannya rata-rata menyumbang PAD di sektor hiburan sekitar  Rp 18 jutaan. Itu artinya, jika  sampai akhir Maret nanti Pop City belum beroperasi, maka   PAD dari sektor hiburan berkurang  sekitar Rp 18 jutaan.

“Cukup signifikan pengaruh tutupnya Pop City selama satu bulanan. Karena Pop City itu bisa menyumbang PAD dari retribusi saja rata-rata Rp 16 juta  sebulan. Belum dari parkir,” tuturnya, kemarin (14/3). Karena itu, dia minta Pop City di izinkan buka.

“Jika memang Pop City telah melakukan perbaikan fasilitas sarana dan prasarana sesuai anjuran tim pengawas, mengapa tidak diizinkan saja untuk buka,” ujarnya saat dimintai tanggapan tentang kunjungan Wali Kota  Rukmini dan tim pengawas ke Pop  City, Senin (13/3).

Rano juga menegaskan agar Pemkot Probolinggo bersikap adil pada investor. Jika memang penutupan untuk pembenahandilakukan pada Pop City, makahal serupa harus diterapkan pada tempat hiburan yang lain. “Seperti fasilitas kamar mandi di room, dilarang. Maka harus dilarang juga fasilitas kamar mandi dalam room di tempat karaoke lain,” ungkapnya.

Pendapat yang diungkapkan  Agus Hartadi, kepala Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset (BPPKA) terkait pengaruh penutupan Pop City.  Menurutnya, tempat hiburan merupakan salah satu potensi PAD.

“Karena itu, penutupan Pop City selama sebulan jelas berpengaruh pada PAD tempat hiburan,” katanya. Berdasarkan data BPPKA, selama Pop City tutup ada kehilangan potensi PAD sebesar  rata-rata Rp 17,8 jutaan per bulan.

 Potensi ini bersumber dari pajak hiburan Rp 16 juta lebih, pajak parkir Rp 450 ribu, pajak penerangan jalan non PLN, Rp 77 ribu. Dan, pajak reklame Rp  1,2 juta per bulan. (radar)