Browse By

Bambang Sulogo Ditahan

Terlibat Dugaan Korupsi Dana Pascabencana Tahun 2012

KANIGARAN – Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Probolinggo menetapkan Bambang Sulogo sebagai tersangka atas kasus dugaan korupsi dana  bantuan pascabencana tahun 2012. Bahkan, Kamis lalu (9/3),  Bambang yang merupakan direktur CV Tulus Abadi ini, ditahan dan dititipkan di Lapas Klas IIB  Probolingo.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo, dugaan korupsi dana bantuan pascabencana dari  Badan Nasional Penanggulangan  Bencana (BNPB) senilai Rp 10,1 miliar itu, terjadi pada tahun 2012  lalu. Nah, Korps Adhyaksa mencium indikasi tindak pidana korupsi dalam proyek tersebut.

Loading...

Hingga kemudian, awal 2015 Kejari melakukan penyelidikan.  Namun, proses penyelidikan tidak semulus yang diperkirakan. Proses penyelidikan kasus tersebut sempat jalan di tempat. Akibatnya, hampir semua penyidik yang  menangani perkara tersebut, dimutasi ke daerah lain.

Hingga akhirnya, April 2016, Kepala Kejari (Kajari) Kota Probolinggo yang waktu itu dijabat Shady Munly Maje Togas, menerbitkan surat perintah penyidikan  (sprindik) baru, untuk mengusut  dari awal dugaan korupsi dana pascabencana tersebut.

Kasi Intel Kejari Kota Probolinggo Herman Hidayat saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di  ruang kerjanya, membenarkan penahanan Bambang Sulogo.  “Kami tetapkan tersangka pada Kamis, 2 Maret 2017. Kemudian, kami tahan kemarin sore (Kamis, 9 Maret, Red). Sekarang jadi tahanan titipan di lapas  (Klas II B Probolinggo, Red),” kata Herman.

Semula, Bambang Sulogo tak langsung ditahan meski sudah ditetapkan sebagai tersangka.  Herman mengatakan, Kamis (2/3) pekan sebelumnya, Bambang Sulogo dipanggil Kejari  untuk menjalani pemeriksaan  sebagai saksi.

Selesai diperiksa sebagai saksi, Bambang Sulogo ditetapkan sebagai tersangka.  Rencananya, hari itu juga ia akan diperiksa sebagai tersangka. Tetapi, Bambang–sapaan  akrabnya – tidak bersedia dan meminta waktu sepekan.

Setelah sepekan berlalu, Kejari memanggil Bambang untuk diperiksa. Hingga akhirnya, Kamis kemarin (9/3), kembali dipanggil sebagai tersangka oleh penyidik.Sebelum menahan Bambang,   penyidik butuh waktu 4 jam untuk memeriksa tersangka.

Bambang sendiri datang sekitar pukul 10.00. Karena masih menunggu penasihat hukum (PH), Novan Agus Priyanto yang belum datang, sekitar pukul 11.00, penyidik memutuskan untuk memeriksa kesehatan Bambang dengan mendatangkan dokter  ke kantor Kejari.

“Sekitar pukul 12.30, BS (Bam bang Sulogo, Red) mulai diperiksa sebagai tersangka sampai  pukul 16.30. Setelah itu, baru kami bawa ke lapas untuk ditahan,” terang Herman. Kasi Intel menjelaskan, dalam pemeriksaan sebagai   tersangka, ada sekitar 60 pertanyaan yang  disodorkan. Pemeriksaan itu, seputar proses pemenanganan   proyek sampai pelaksanaannya.

“BS ditetapkan tersangka selaku pemenang tender normalisasi sungai Kedunggaleng, Wonasih, senilai Rp 967.943.000. Nilai kerugiannya khusus proyek tersangka mencapai Rp 113 juta,” ungkapnya.  Saat disinggung soal modus tindak pidana korupsi dalam   proyek normalisasi sungai tersebut? Herman mengungkapkan, dalam proses penyelidikan dan  penyidikan, kuat dugaan ada  penyelewengan dalam proyek pascabencana tersebut.

Pertama, diduga kuat tersangka mendapatkan tender dengan melawan hukum. Sayangnya, Herman enggan menjelaskan detail maksud melawan hukum tersebut. Kemudian, pengerjaan proyek oleh tersangka tidak sesuai dengan bestek atau gambar.

“Proyek normalisasi sungai yang dikerjakan tersangka itu, yakni pembuatan bronjong atau tangkis. Nilai anggarannya mencapai Rp 1 miliar,” tegasnya.  Seperti diketahui, Kejari mulai  melakukan penyelidikan dugaan  korupsi proyek rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana pada  September 2014 lalu.

Kemudian,  pada 13 Maret 2015, statusnya dinaikkan dari penyelidikan ke penyidikan.  Langkah itu dilakukan setelah Kejari menemukan dua dugaan tindak  pidana sekaligus dalam proyek tersebut. Yakni, penyalahgunaan wewenang, serta dugaan praktik suap  atau gratifikasi.(radar)