Browse By

Marwah Daud Ikut Dimas Kanjeng setelah Istikharah

Jadi Saksi Terdakwa Suparman

KRAKSAAN – Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Marwah Daud Ibrahim dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan kasus penipuan atau pengelapan dengan terkdakwa Sultan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Suparman.

Dalam persidangan kemarin, Marwah banyak bercerita awal mula bergabung di  Padepokan dan jadi pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Menurutnya, terdakwa Suparman yang kali pertama menunjukkan foto Dimas Kanjeng bersama uang dalam peti kepadanya.

Loading...

Itu, dilakukan ketika dirinya ada sebuah acara di Jawa Tengah. Karenanya, Marwah mengaku ingin mencari tahu  dan ingin diperlihatkan uang dalam foto itu. Tapi, pertama tidak bertemu dengan Dimas Kanjeng.  Ketika ada tugas di Jawa Timur, Marwah mengaku, berhasil menemui Dimas Kanjeng di Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Kecamatan Gading.

Ternyata, Marwah terkesan dengan pria  yang kini jadi terdakwa kasus  pembunuhan berencana itu. “Saya terkesan pada beliau  (Dimas Kanjeng), tidak banyak berbicara. Tapi, beliau tahu,” ujar mantan anggota DPR RI itu.

Marwah mengaku, dirinya sempat ditunjukkan proses penarikan uang oleh Dimas Kanjeng, di ruang tamu Padepokan. Saat itu, ada puluhan orang yang menyaksikan aksi  Dimas Kanjeng. Menurutnya, saat itu yang memfasilitasi dirinya bertemu Dimas  Kanjeng, Ismail Hidayah.

“Yang saya ingat, ada Ismail Hidayah dan istri Ismail (Bibi Resemjan) di ruangan padepokan  itu, siang hari,” jelasnya. Namun, kata Marwah, dirinya butuh beberapa bulan untuk memutuskan menjadi pengikut padepokan. Sebab, dirinya juga harus istikharah dulu soal apa yang telah dilihatnya.

Hingga akhirnya, dirinya memutuskan menjadi pengikut dan memberikan mahar kepada Ismail.  Duit yang diberikan kepada Ismail itu, menurut Marwah, dianggap sebagai sumbangan untuk  pengeboran air dan sarana prasana  di padepokan. Sebab, biasanya  ada pengumuman dari pendapa padepokan, untuk pembangunan dan kegiatan lainnya.

Saat itulah dirinya ikut menyumbang seikhlasnya. Tapi, tidak di tentukan nilainya. Seikhlasnya memberikan sumbangan,” ujarnya.  Selain itu, Marwah mengaku jarang datang ke padepokan. Biasanya, dirinya datang ketika ada istighotsah.

Akhirnya, dirinya diminta menjadi pengurus padepokan dan sempat menolak. Kemudian, atas pertimbangan  sendiri dirinya menerima sebagai  Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng pada 2016.  “Itu pun saya hanya fokus pada program. Setiap kali ada istighotsah,  dia (terdakwa) ada di padepokan.  Saya tahunya dia sebagai koordinator di padepokan. Saya tidak terlalu kenal  dengan terdakwa,” jelasnya.

Selain marwah, dalam persidangan yang diketuai oleh Ketua majelis Hakim Basuki Wiyono,  itu jaksa penuntut umum juga menghadirkan dua saksi lain. Mereka diminta bersaksi atas  terdakwa kasus penipuan dan  atau penggelapan Suparman.

Diketahui, Suparman merupakan Sultan Agung Padepokan Dimas Kanjeng. Dia diadili karena  didakwa menipu dan atau menggelapkan uang milik Prayitno  Supriadi, warga Kabupaten Jember. Atas kasus ini, korban mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 900 juta. (radar)