Browse By

Cabai Impor Mulai Masuk

Temukan di Pasar Bangil dan Pandaan

BANGIL – Pemerintah pusat me mang tak melarang masuknya cabai impor asalkan bukan segar alias kering. Cabai jenis ini rupanya sudah masuk ke pasar tradisional di Pasuruan. Kemarin (8/3) Dinas Perindustrian dan  Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Pasuruan menemukan puluhan kilogram cabai kering  yang diduga berasal dari India  atau Tiongkok.

Temuan cabai impor masih ditemukan di 2 pasar yaitu pasar Bangil dan Pandaan. Dari dua pasar tersebut, cabai impor yang ditemukan masing-masing sekitar  50 kilogram per pasarnya. Sehingga, Disperindag langsung mengumpulkan kepala pasar agar segera melakukan tinjauan ke lapangan.

Loading...

Dikonfirmasi Jawa Pos Radar Bromo, Gatot Sutanto, kepala seksi perdagangan dalam negri Disperindag Kabupaten Pasuruan membenarkan bahwa kemarin  memang ada temuan cabai yang diduga impor. Ini, lantaran selain bentuknya lebih besar dibandingkan cabai rawit, kondisinya sudah kering dan layu.

“Memang masih dugaan cabai impor, tapi memang dari segi bentuk sudah kering dan layu,” ungkapnya. Sedangkan harga jualnya memang jauh lebih murah yaitu hanya  Rp 60 ribu per kilogramnya.

Temuan cabai impor ini diduga dari India atau Tiongkok. Cara memasukkan ke pasar tradisional juga sembunyi-sembunyi lantaran takut  ke tahuan dengan petugas pasar.  Namun, Disperindag sendiri tidak bisa menarik cabai tersebut karena pengawasan saat ini sudah  jadi wewenang Disperindag Provinsi Jawa Timur.

“Jadi, sifatnya kami hanya mengimbau saja,  agar pedagang tidak lagi menjual cabai impor tersebut. Selain itu, petugas pasar juga diberikan tanggung jawab agar mengawasi supaya cabai impor tidak di te- mukan lagi dijual bebas di pasar tra disional,” ungkapnya.

Karena bentuknya yang sudah kering, cabai impor ini memang  kurang disukai oleh rumah tangga. “Namun, untuk pedagang seperti bakso yang sambalnya olahan, cabai  impor yang dicari karena harga lebih murah,” ungkapnya. (radar)