Browse By

Sebulan, Omzet Rp 200 Juta

Bongkar Sindikat Penyalahgunaan Obat Keras

MAYANGAN – Ini peringatan bagi para orang tua yang memiliki anak remaja. Sebab, peredaran penyalahgunaan obat keras di Kota Probolinggo saat ini kian  merajalela. Sabtu petang lalu, anggota Intel  Kodim 0820 Probolinggo mengamankan tiga pelaku pengedar obat keras.

Tak berselang lama, Satnarkoba Polres Probolinggo  juga membekuk bandar penyuplai obat keras beromzet ratusan juta tiap bulannya. Pelaku yang diamankan oleh anggota Kodim dan Polresta masih satu jaringan. Bedanya, tiga  pelaku yang diamankan Kodim  adalah pengedarnya, sementara yang di amankan Polresta adalah bandar.

Loading...

Untuk tiga pelaku yang diamankan anggota Kodim, semuanya diamankan dari tempat yang  sama. Yakni, di Jalan Kapten Patimura, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota  Probolinggo. Ketiganya dibekuk Sabtu (4/3) pukul 17.00.

Ketiga pelaku yang dibekuk itu  adalah Sukarno, 41, warga Jalan KH. Abdul Hamid, Gang V/12,  RT 3/RW 2, Kelurahan Jrebeng Lor, Kecamatan Kedopok; Ikrar Ardiles, 41, warga Jalan WR. Supratman, Gang Sungging, RT 5/ RW 6, Kelurahan Jati, Kecamatan  Mayangan. Serta Rusdiyanto, 42, warga Warga Jalan Imam Bonjol,  No. 55, Kelurahan Mangunharjo,   Kecamatan Mayangan.

Dan, Unit Intel Kodim 0820 Lettu infantri Zubairi saat dikonfirmasi Sabtu malam mengungkapkan, penangkapan ketiga pelaku itu berawal dari  laporan masyarakat. Dari laporan itu, sekitar pukul 14.00, anggota Intel Kodim pun melakukan  penyelidikan.

Saat diketahui kebeneran info tersebut, sekitar pukul 17.00, sejumlah anggota Intel lantas mendatangi lokasi dengan dibagi dua kelompok. Anggota Kodim lantas mengepung warung yang diduga jadi ajang transaksi  peredaran obat keras itu. Dari situ, tiga pelaku akhirnya  berhasil diamankan.

“Untuk  ketiga pelaku yang ditangkap, mereka tidak melakukan perlawanan,” terang Zubairi. Dari tangan tiga pelaku itu, anggota Intel Kodim berhasil menyita sejumlah obat keras. Di antaranya, 464 butir pil Trihexipinidyl, 1.990 butir pil Dextro.

Pil Trihexyipinidyl dari sejumlah literatur disebutkan, merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi gangguan gerakan yang tidak normal dan tidak terkendali akibat penyakit Parkinson atau efek samping obat. Contoh obat yang berpotensi memberikan efek samping masalah pada pergerakan adalah  obat untuk psikosis, masalah  kejiwaan atau emosional, mual, dan perasaan gelisah.

Sementara pil Dextro merupakan obat batuk. Bila dikonsumsi dalam jumlah berlebih, bakal menimbulkan efek samping bagi pengonsumsinya.  Selain itu, petugas juga mengamankan duit Rp 1.160.500, sebuah gunting, staples, kotak warna hitam, tas warna cokelat doreng. Serta, dua buah buku catatan penjualan.

“Dari keterangan pelaku, mereka mendapatkan dari bandar bernama Agung. Untuk sasaran pembelinya, mayoritas anak- anak pelajar. Tiap butir, harganya  seribu. Namun langsung dijual  satu klip plastik kecil seharga  Rp 10 ribu dengan isi 10 butir,” imbuh Zubairi.

Kepada anggota TNI, para pelaku menyebut omzet yang didapat  dari bisnis penjualan obat keras tanpa resep dokter itu cukup menggiurkan. Sebulan, Agung sang bandar mengaku omzet bersihnya bisa mencapai Rp 200 juta.

Yang mengejutkan, dari penyidikan diketahui bahwa jaringan pengedar Agung cs ini mengaku di-backing-i oknum polisi.  Hal itu terungkap saat salah satu Intel Kodim mengirim pesan singkat ke Agung (bandar)  melalui HP salah satu pelaku yang telah ditangkap.

Anggota intel saat itu menyamar jadi pelaku yang tertangkap lantas mengirim SMS ke Agung. Dari situ, Agung menjawab lewat SMS ke pelaku yang telah ditangkap bahwa ia akan membebaskan pelaku yang telah ditangkap. Sebab, Agung menyebutkan, ia telah di-backing-i oknum petugas kepolisian.

Tiap bulan,  Agung menyebut setor kepada sejumlah oknum petugas kepolisian. Mulai Rp 200 ribu hingga Rp 1,5 juta per minggunya. Soal adanya pengakuan dari pelaku yang mencokot oknum petugas kepolisian, Zubairi menyebut pihaknya bakal melakukan penyelidikan.

“Untuk kasus yang diduga ada oknum Polri  yang membackingi, kami masih selidiki,” beber Zubairi. Sementara itu, pada Sabtu malam sekitar pukul 22.00, anggota Kodim menyerahkan ke- tiga pelaku ke Polres Probolinggo Kota.

Selanjutnya, ketiga  pelaku pun jadi tahanan Satnarkoba Polresta. Di sisi lain, Wakapolres Probolinggo Kota Kompol Djumadi menepis pengakuan salah  satu pelaku yang menyebut di backingi oknum anggota polisi. “Tidak benar jika ada anggota Polri yang membekingi para pelaku,” terangnya.

Sebagai bukti, perwira polisi  dengan satu melati di pundaknya  itu menyebutkan, pihak  Satnarkoba bahkan telah menangkap  bandar narkoba yang mengaku di-backingi oknum anggota polisi itu. “Pelaku yang mengaku di-backingi Polri terbukti pada pukul 21.00 diamankan Sat Reskoba. Kami juga berterima kasih telah  dibantu Kodim, sehingga pada pukul 22.00 dari pihak kodim  menyerahkan tiga pengedar farmasi,” beber Djumadi.(radar)