Browse By

Paling Susah Urus Jenazah Meninggal Tak Wajar

SURYA Susanti, 31, tampak duduk manis di meja kerjanya saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo sore kemarin.  Begitu mengetahui kedatangan wartawan koran ini, dengan ramah ia menyambut. Sudah empat tahun terakhir ini,  perempuan yang akrab disapa Santi ini bekerja di Yayasan Rumah Duka Saeka Praya.

Pekerjaannya sendiri selalu berkaitan dengan jenazah. Perempuan kelahiran 25 Mei 1986 ini tak hanya mengurus janazah, ia  juga mengurus administrasi dan menjadi (master of ceremony) MC pemakaman di tempat tersebut.

Perempuan yang akran disapa Santi  ini menceritakan, sebelum bekerja di yayasan rumah duka, ia bekerja  di sebuah pabrik kayu. Namun, sejak  kehamilannya, ia memutuskan berhenti dari pabrik kayu tersebut. “Di sana (pabrik kayu) sangat ribet kerjaannya. Makanya, saya keluar. Memang, ada rencana untuk kembali bekerja di sana, tapi malas, akhirnya  saya bekerja di sini,” kenangnya sambil tertawa.

Loading...

Santi menceritakan, usai berhenti  bekerja dari pabrik kayu, kondisi ekonominya sempat sulit. Ia pun memutuskan untuk  kembali bekerja.  Saat itu, ia mendapatkan info bahwa ada lowongan bekerja di Yayasan Saeka Praya pada 2013  lalu. Ia pun memutuskan untuk menaruh lamaran kerja di yayasan setempat.

“Saat itu saya sangat membutuhkan pekerjaan. Jadi, saya langsung melamar, meski masih belum faham apa pekerjaannya,” cerita Santi. Nah, pada 31 Januari 2013, Santi dipanggil untuk bekerja. Saat  itu, ia langsung di-intervew. Proses interview itu merupakan salah satu hal yang tak bisa dilupakan olehnya.

Sebab, saat itu Santi ditanya apakah bisa mengurus janazah. Padahal, sebelumnya ia tak mempunyai pengalaman mengurus  jenazah. Kontan saja ia langsung merasa ngeri. “Saya menjawab, tidak bisa. Anehnya, tapi saya tetap diterima. Katanya, di sini tugasnya tidak  hanya sebagai mengurus jenazah,  tapi juga sebagai MC dan bagian administrasi,” kenangnya.

Dengan pertimbangan itu,  Santi pun berpikir ulang. Dengan sejumlah pertimbangan, ia akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran itu. Usai empat hari ia bekerja, ia  kedapatan tugas mengurus jenazah.

Dari situ, ia mendapati bahwa proses pengurusan jenazah di yayasan rumah duka setempat  berbeda dengan pengurusan jenazah seperti umat muslim. “Awalnya saya berpikir, mengurus janazahnya menggunakan kain kafan, jadi saya takut. Ternyata berbeda,” bebernya.

Seiring berjalannya waktu, jam  terbang Santi dalam mengurus  jenazah pun terus terasah. Sebab, tiap hari ia selalu mengamati seniornya merias jenazah dan belanjar menjadi MC. “Saat ini, saya jadi MC kadang diundang sampai ke Malang dan Surabaya,”  jelasnya.

Untuk jadi seorang MC, Santi  juga harus banyak belajar pada para seniornya. Ia kerap berlatih  di rumah untuk memandu acara di rumah duka. Menurutnya, sejauh ini ia masih mengalami kesulitan saat  diminta mengurus janazah yang  meninggal dengan kondisi tidak wajar.

Seperti meninggal akibat  kecelakaan, atau terkena penyakit kulit. Bila sudah begitu, terpaksa ia harus bekerja ekstra. Sebab,  penanganan untuk jenazah yang  meninggal tak wajar juga butuh perhatian khusus.
“Kalau meninggal karena kecelakaan, biasanya sudah ditangani oleh tim dokter. Yang susah,kalau mengurus pasien yang  meninggal karena penyakit kulit. Susah meriasnya,” jelasnya.

Lantaran pengalaman juga, ia kini sudah merasa cukup nyaman  dengan pekerjaannya. Perasaan ngeri karena hampir tiap hari  berurusan dengan jenazah pun  kini tak dirasakannya. Selama empat tahun bekerja, Santi juga hampir tak mengalami “gangguan”.

“Saya rasa di sini aman  dan nyaman,” jelasnya. Ia pun merasa tak pernah tertekan bekerja di yayasan setempat. Sebab, menurutnya, saat ada susulan urusan keluarga, ia bisa dengan mudah izin. “Jika anak saya sakit, saya izin langsung dikasi dan habis dari rumah sakit saya langsung balik kerja,” jelasnya.

Ia menganggap apa yang dikejakannya mengurusi jenazah sebagai ibadah. (radar)

Incoming search terms:

  • terlindas truk masih hidup di sekitar pasuruan