Browse By

Gara-gara Bercanda soal “Bom” di Pesawat

SUASANA ruang depan kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pasuruan kemarin tampak lebih  ramai dari biasanya. Ada 6 orang yang  menunggu dengan duduk di ruang  tamu sambil menunggu ditemui oleh  staf Kemenag yang berwenang.

Wajah gelisah tersirat di raut wajah- wajah mereka. Maklum, dua saudara mereka sampai kemarin masih tertahan di Arab Saudi sejak 11 Januari. Sampai kemarin (16/01), dua saudaranya itu belum dipastikan kapan akan bisa pulang ke tanah air.

Sambil menunggu ditemui pihak Kepala Seksi (Kasi) Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Kabupaten Pasuruan Imron Muhadi, mereka ngobrol bareng wartawan koran ini.  Mereka menceritakan kronologi dan perjuangan mereka untuk bisa berkomunikasi dengan dua saudaranya  yang masih tertahan di Arab Saudi.

“Memang yang masih tertahan di   imigrasi di Dahban, Jeddah adalah 2 saudara kami. Yakni, Umi Widayani Djaswadi, (57, warga Pogar Bangil) dan Triningsih Kamsir, 50, warga Desa/ Kecamatan Beji. Selain mereka, juga ada kakak saya,  Lyan. Ia memilih ikut menunggu di sana usai mengetahui Umi  dan Triningsih tidak bisa pulang  per 11 Januari lalu,” ujar Berlin  Margarita, putri dari Umi Widayani, salah satu jamaah yang masih tertahan.

Dikatakan Berlin, Umi dan Tri ningsih masih saudara sepupu. Diceritakannya, pada 11 Janu- ari 2017 lalu, rombongan umrah yang diberangkatkan oleh Hijrah Tour dari Suwayuwo, Sukorejo,  ini akan pulang ke tanah air dengan Pesawat Royal Brunei.

Saat itu, pemberangkatan akan dilakukan dari Jeddah menuju  Indonesia dengan transit ke Brunai terlebih dahulu.  Umi dan Triningsih saat itu membawa tas jinjing warna kombinasi hitam dan oranye dengan ukuran sedang.

Keduanya saat itu kesulitan  memasukkan ke kabin pesawat  lantaran berat. Dari situ, seorang pramugari pun datang untuk mencoba membantu. Pramugari dari Royal Brunei ini kebetulan bisa bahasa Melayu dan sempat menanyakan isi dari  tas tersebut kenapa kok berat.

 “Nah, tas itu sendiri milik Triningsih. Ibu saya lalu bilang isinya ya makanan, masak isinya bom?” ujar Berlin menirukan ucapan ibunya kepada pramugari itu.  Nah, celetukan yang sekadar guyonan itu rupanya ditanggapi berbeda oleh sang pramugari.

Loading...

Ia lantas melaporkan Umi dan  Triningsih ke kokpit dan diteruskan ke keamanan bandara.  Setelah dapat laporan tersebut,  semua penumpang pesawat yang berisi kurang lebih 400 orang dan rombongan jamaah umrah  ini semua diturunkan.

Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan  menyeluruh ke isi pesawat.  Walhasil, semua penumpang pun sempat tertahan hingga 15  jam di bandara Jeddah. Sedangkan nasib Umi dan Triningsih langsung diamankan di tempat steril.

Keduanya diperiksa terkait pernyataan bom tadi.  Usai 15 jam berselang dan dinyatakan aman, semua penumpang pesawat itu akhirnya dipersilakan naik kembali. Berlin  mengatakan, Umi dan Triningsih  juga sudah dipersilakan naik. Namun, sayangnya berita tersebut sudah terdengar sampai ke kepolisian Arab Saudi.

“Akhirnya, Umi (ibundanya)  dan Triningsih (tante) disuruh  turun lagi. Bahkan, pas turun dari pesawat ada tank-tank saat  itu,” ceritanya. Karena tidak tega melihat ibu dan tantenya ditahan, Lyan Widia, 31, yang merupakan putra dari  Umi pun ikut turun untuk menemani. Sayangnya, Lyan tidak diperbolehkan ikut. Ia kini juga terkatung-katung di Konsulat Jendral RI (KJRI) di Jeddah.

Berlin mengatakan, selama ini ia memang lebih aktif berkomunikasi dengan Lyan ketimbang ibu dan tantennya. Pihak Arab Saudi sendiri disebutkan sempat   beberapa kali memberikan layanan telepon agar bisa menghubungi saudaranya di tanah air.

“Untuk kebutuhan makan dan tidur memang dipenuhi. Hanya,  untuk baju ganti mereka tidak disediakan. Sehingga, saya juga merasa kasihan karena beliau  sudah tua,” ungkapnya. Kemarin (16/01) ditemani Suryono Pane, yang jadi penasihat  hukumnya, mereka mencoba  melobi Kemenag Kabupaten Pasuruan.

Harapannya, agar Kemenag membantu proses pemulangan kedua saudara yang tertahan di  Arab Saudi dan di KJRI.  Suryono berharap, pihak Kemenag untuk melapor ke pemerintah pusat. Sehingga, nantinya bisa dibantu agar jamaah umrah yang tertahan itu bisa  segera dipulangkan.

Dari pihak Kemenag sendiri, kemarin diwakili oleh Munif Armuza, kepala Kantor Subag TU  dan Imron Muhadi, kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU). Munif mengatakan, karena sifatnya bercanda, ia berharap  agar proses pemulangan jamaah bisa dilakukan secepatnya. Apalagi kedua jamaah tersebut memang tidak memiliki rekam jejak  pernah terlibat tindak kriminal di daerah asalnya.

“Tapi, memang ini bisa menjadi pelajaran bagi semua jamaah. Ke depannya, agar bisa lebih berhati-hati. Karena isu teroris  memang sangat sensitif sekarang,  termasuk di Arab,” ungkapnya. Pihak Kemenag pun segera akan melakukan komunikasi dengan  Kemenag pusat di Jakarta. Agar bisa berkoordinasi dengan KJRI  di Arab.

“Akan diusahan lewat jalur diplomasi. Dan, karena memang tidak terbukti ada bom, semoga bisa secepatnya kembali ke tanah  air,” harap Munif. (radar)