Browse By

Simpan Mistik Naga Baru Klinting

tenggelamnya-tank-amphibi

TOTAL luas Ranu Grati sekitar 1.085 hektare. Jika ditiik dari lokasinya, Ranu Grati terletak di tiga desa di Kecamatan  Grati. Yakni Ranuklindungan, Sumberdawesari dan Kelurahan Gratitunon. Untuk menuju tempat wisata ini, pengunjung hanya memerlukan waktu 10  menit dari jalan besar jalur Pasuruan- Probolinggo.

Lokasinya juga bisa di jangkau dengan kendaraan apapun. Bahkan ojek sekalipun. Selain menjadi objek wisata yang ikut  memberi pemasukan pendapatan  asli daerah (PAD) Kabupaten  Pasuruan, Ranu Grati juga menjadi  ladang bagi warga sekitar untuk   mencari rezeki.

Diantaranya, sebagai tempat budidaya ikan air tawar di kerambah, sampai sektor pelaku wisata lainnya. Danau ini juga menjadi lokasi yang nyaman bagi pemancing. Hampir tiap hari pemancing selalu ditemui  di kawasan ini.

Begitu pula dengan pengunjung yang hendak menikmati sepeda air,  atau atlet dayung yang berlatih. Di balik eksotisme Ranu Grati, danau  ini konon bermula dari legenda Naga Baru Klinting yang sampai kini masih  banyak dipercaya masyarakat.

Naga baru Klinting adalah seorang anak lelaki berwujud manusia setengah ular. Menurut kepercayaan warga, Naga Baru Klinting dahulu hidup di Desa Ranu klindungan. Sebuah desa yang menjadi wilayah bekas Kademangan Klindungan dan terkenal karena kesuburan alamnya.

Di desa itu, hidup seorang tokoh yang disegani yakni Begawan Nyampo. Sikapnya yang arif dan bijaksana, membuat gadis jelita dari keraton Mataram, terpikat. Dia adalah Dewi Endang Sukarni yang menurut kepercayaan, lari dari keraton,  karena hendak dinikahkan.

Loading...

Begawan Nyampo rupanya juga terpesona dengan kemolekan Dewi Endang Sukarni. Sebagai wujud cintanya, Begawan memberikan sebilah pisau kepadanya. Namun Begawan juga berpesan agar tidak memangku pisau itu.

Sayangnya, suatu ketika ternyata Dewi  Endang melupakan pesan sang Begawan  dan memangku pisau itu. Keteledoran itu  membuat dirinya hamil dan melahirkan seorang bayi setengah ular. Wujud manusia setengah ular itulah yang kemudian  diberi nama Baru Klinting.

Baru Klinting tubuhnya dipenuhi sisik ular, sehingga penduduk mengucilkannya. Begawan yang menganggap Baru Klinting sebagai anaknya sendiri merasa malu akan kejadian itu. Begawan dan Dewi Endang   Sukarni akhirnya menyepakati untuk menyingkirkan Naga Baru Klinting.

Maka dicarilah dua tantangan yang tidak akan bisa dilalui dengan selamat oleh Naga Baru Klinting. Namun, tantangan   itu selalu bisa dilewati Baru Klinting. Sampai kemudian, Begawan Nyampo membujuk Baru Klinting untuk melakukan tapabrata dengan melingkari Gunung Kelud.

Tapabrata itu ditujukan agar Naga Baru Klinting bisa menjadi ma nusia sempurna seperti kedua  orang tuanya.  Saat melakukan tapa itulah Nagaaru Klinting tewas. Tubuhnya  dibantai dan dimakan  oleh penduduk sekitar setelah dicacah menjadi  40 bagian.

Tempat pembantaian itu kini bernama Desa Mblereh. Sedangkan tempat pembersihan sisik (kresek) sekarang dinamai Desa Kresek. Nama Desa Petangpuluh dahulu merupakan sebuah tempat  pemotongan Naga Baru Klinting dan tempat pembaaran (tunu) daging menjadi nama Desa Ranu klindungan.

Sampai kemudian warga mengetahui jika Dewi Endang Sukarni adalah ibu dari Baru Klinting. Merasa kesal, Dewi hendak  memberikan pelajaran kepada warga.  Dia lalu menantang setiap warga untuk mencabut Sodo Lanang (lidi) yang ditancapkannya di dalam tanah.

Yaitu, lidi pemberian putranya dalam mimpi Walau hanya sebatang lidi, ternyata tak ada yang mampu mencabut Sodo Lanang. Saat lidi itu dicabut Dewi, bekas lubang tancapan Sodo Lanang, memancarkan air sangat deras.

Air itu semakin deras, hingga menenggelamkan apa saja, termasuk  penduduk sekitar. Luapan air yang keluar dari bekas tancapan Sodo Lanang terus melebar hingga seluas 1.085 hektare. Sama persis dengan luas Danau Ranu Grati  saat ini. (radar)