Browse By

Pastikan Pembunuhan Berencana

Polisi Tolak Gugatan Praperadilan Keluarga Sahal

KRAKSAAN – Sidang praperadilan penangkapan Mishal Budianto alias Sahal, 48, oleh Polres Probolinggo, kembali berlanjut, kemarin. Sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan itu mengagendakan jawaban termohon yakni Kapolres Probolinggo atas gugatan pemohon yakni istri Sahal, Maryatul Kiftiyah.

Dalam jawabannya, Kapolres AKBP Arman Asmara Syarifuddin diwakili oleh Kepala Urusan (Paur) Humas Ipda Sumarno. Pihak kepolisian pun menolak dalil-dalil permohonan praperadilan yang diajukan oleh pemohon seluruhnya.

Alasannya, penangkapan Sahal dinilai sudah sesuai dengan manajemen penyelidikan dan penyidikan. Sumarno menjelaskan, dari hasil penyidikan diperoleh fakta hukum. Berdasarkan bukti  permulaan yang dikantongi polisi, ada tindak pidana pembunuhan berencana yang terjadi di  Kecamatan Tegalsiwalan yang diduga dilakukan oleh Sahal.

Penangkapan Sahal sendiri dilakukan karena termohon telah memenuhi minimal dua alat bukti yang sah. Yakni, berupa keterangan saksi, surat dan dokumen, serta petunjuk tentang adanya persesuaian yang diperoleh dari keterangan saksi, surat, dan keterangan tersangka.

Sumarno pun menyebut, sorotan dari pihak pemohon soal surat perintah penangkapan yang harus mencantumkan uraian singkat perkara, adalah hal yang mengada-ada. “Karena tidak diatur secara eksplisit. Termohon juga menjelaskan bahwa tuduhan tersangka  tidak pernah diperiksa sebagai saksi tidak benar. Sebab,  Sahal ditangkap setelah melalui   proses penyidikan,” jelasnya.

Penangkapan Sahal pada 27  Mei lalu juga disebutkan sudah sesuai prosedur. Hal itu dibuktikan  dengan adanya surat penangkapan nomor SP.Kap/121/V/2016/Satreskrim. “Dengan demikian, dalil-dalil pemohon tidak berdasar hukum dan dinyatakan harus ditolak atau setidak-tidaknya tidak dapat diterima (Niet Onvankelijke Verklaard),” jelas Sumarno saat membacakan  jawaban Kapolres.

Kapolres Probolinggo AKBP  Arman Asmara Syarifuddin saat  dikonfirmasi terpisah menyatakan, Sahal ditahan karena ia diduga terlibat dalam perkara pembunuhan berencana di Desa Tegalsono, Kecamatan Tegalsiwalan. Penahanannya   pun sudah melalui prosedur. Yakni, adanya alat bukti minimal dua macam.

Terkait alasan, kenapa tersangka ditahan, Arman menyebut karena polisi khawatir bila tersangka akan melarikan diri, merusak dan menghilangkan alat bukti, serta mengulangi tindak pidana. Selain itu, tersangka  Sahal disebutkan terlibat dalam dugaan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih.

“Kami sudah memiliki cukup bukti bahwa tersangka melakukan atau membantu tindak pidana pembunuhan di Desa Tegalsono yang mayatnya ditemukan pada 5 Februari 2015 lalu,” kata mantan Kasubdit III Ditresnarkoba  Polda Metro Jaya, itu.

Usai menangkap Sahal, polisi dijelaskan Arman melakukan pengembangan. Hingga kemudian  muncul nama-nama yang diduga berkaitan dengan pembunuhan Ismail Hidayah. Ada lima  orang lain yang diduga berkaitan dengan pembunuhan tersebut.

Seperti diketahui, misteri penemuan mayat Mr. X korban pembunuhan di Desa Tegalsono,  Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, pada 4 Februari 2015 lalu, menemui titik terang. Usai melakukan penyelidikan,  polisi menangkap Sahal   pada 27 Mei lalu.

Loading...

Polisi menangkap Sahal usai menduga mayat Mr. X adalah Ismail Hidayah, warga Panarukan, Kabupaten Situbondo. Kamis (2/6) lalu atau usai setahun  lebih penemuan mayat,  polisi membongkar kuburannya.

Mayat Mr. X itu pun dicocokkan  dengan salah satu perwakilan  dari keluarga Ismail Hidayah. Ciri-ciri yang dipakai Mr. X saat ditemukan tewas dengan kepala  dibungkus plastik, persis  dengan ciri-ciri Ismail saat pamitan keluar rumah sebelum dinyatakan menghilang pada 2 Februari 2015 lalu.

Ismail dikabarkan menghilang usai terakhir pamitan mau ke masjid untuk salat berjamaah. Saat menghilang,  Ismail mengenakan baju koko selutut dengan sarung motif   kotak-kotak warna biru  Mayat Mr. X yang ditemukan dikubur di Tegalsono sendiri  juga mengenakan baju koko panjang selutut dan sarung motif   kotak-kotak warna biru pada  4 Februari 2015 silam.

Selain itu, di tangan korban juga tengah membawa tasbih. Ismail Hidayah sendiri, sehari-harinya disebutkan menjadi wirausahawan yang bergerak dalam bidang jual beli pakaian. Pekerjaan itu sudah digelutinya  sejak 2002.

Di luar kesibukannya itu, ia juga memiliki aktivitas sebagai pengurus di sebuah yayasan di Kabupaten Probolinggo sejak 2010 silam. Di yayasan itu, Ismail memegang jabatan cukup penting.  Bibi Resemjan, istri Ismail mengaku, suaminya adalah sosok yang baik. Ia berkenalan dengan  Ismail pada 2001.

Saat itu, Ismail  sudah memiliki dua anak dari pernikahan pertamanya. Bibi menikah dengan Ismail   pada 2002 silam. Dari pernikahan  ini, mereka dikarunia dua putra. Sepengetahuannya, Ismail tidak pernah memiliki musuh. Namun,  beberapa bulan sebelum ia menghilang,  Ismail mengaku mempunyai  masalah di organisasinya.

Sementara itu, penasihat hukum (PH) keluarga Sahal, Muhammad Sholeh menjelaskan, jika jawaban dari termohon sama sekali tidak menjawab gugatan yang diajukan keluarga Sahal. Di antaranya adalah termohon tidak menjelaskan tentang adanya  surat penangkapan.

Selain itu, pihak pemohon menilai, tidak adanya uraian singkat tentang siapa yang dibunuh, lokasinya dimana, kapan terjadinya. Kemudian, termohon tidak menjawab tentang adanya tindak penganiayaan   dan kekerasan yang  dilakukan.

“Itu berarti mereka membenarkannya,” kata Sholeh. Pengacara asal Surabaya ini berkeyakinan jika gugatannya akan dikabulkan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kraksaan. Alasannya, termohon melakukan sejumlah pelanggaran  dalam proses penyidikan. Diantaranya, tersangka tidak pernah didampingi pengacara.

“Padahal, menurut ketentuan  yang berlaku, tersangka yang diduga terlibat tindak pidana dengan ancaman hukuman di  atas lima tahun wajib didampingi  pengacara,” terangnya. Soleh menyebut, ia sejauh ini  baru sekali bertemu dengan Sahal.  Yakni pada 28 Mei silam di Mapolda Jatim.

“Saat itu, ia (Sahal) memang mengakui kenal dengan Ismail Hidayah. Mereka berteman dan pernah berada di padepokan yang sama,” jelas Sholeh.   Namun, Sholeh menyebut selama ini kliennya tak pernah memiliki masalah dengan Ismail. Lantaran itu ia pun menepis dugaan polisi yang menyebut pembunuhan itu mengarah kepada  Sahal.

Sidang praperadilan pembunuhan dengan tersangka Sahal sendiri rencananya bakal dilanjutkan hari ini (22/6). Agendanya replik yakni jawaban penggugat atas jawaban tergugat. (radar)