Browse By

Air di Sumber Langsih Mendadak Jadi Pink

Masuk Area Pabrik Kulit

KADEMANGAN – Sejumlah petani di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, beberapa  hari terakhir ini resah. Sebab, sumber air  yang selama ini mereka manfaatkan jadi irigasi sawah kondisinya tercemar.

Kelompok Tani Sinar Harapan pun melaporkan kondisi itu ke DPRD setempat. Dari laporan itu, kemarin Komisi C DPRD setempat menggelar hearing yang menghadirkan sejumlah pihak. Yakni, perwakilan pabrik kulit CV Sumber Setia Jaya Abadi yang diduga telah mencemari sungai, kelompok tani, BLH, Badan Perizinan,  serta pihak kecamatan.

Hearing itu pun ditindaklanjuti dengan mengunjungi langsung lokasi pabrik yang ada di Jalan Kerinci, Kelurahan Pilang. Umar, salah satu anggota Kelompok  Tani Sinar Harapan mengatakan,  sebelum ada pabrik pengolahan kulit, air irigasi di kawasan  setempat bersih. Bahkan, air di irigasi tersebut bisa digunakan petani untuk mandi dan wudu.

“Tapi, sekarang ini bermasalah.  Baunya tak sedap dan menyebabkan  gatal-gatal. Selain itu, juga membuat tanaman rusak karena terkena bakteri,” ujarnya.  Dampak lainnya, kelompok tani ini kekurangan buruh tani   untuk menggarap sawah. Pasalnya,  buruh tani banyak yang enggan menggarap karena sering gatal.

“Kejadian gatal-gatal ini sejak  ada pabrik di hulu. Sumber airnya  ada di dalam pabrik. Mungkin ada limbah yang masuk ke  sumber air,” ujarnya.  Hal yang sama juga diungkapkan oleh Syaiful, petani dari kelurahan   Ketapang. Menurutnya,  sejak lama ia bertanam bawang merah di kawasan setempat. Mendapat keluhan tersebut,  pemilik pabrik kulit, Eddy Soesanto  mengungkapkan, jika pabriknya telah mengikuti standar  pengolahan limbah pabrik.

“Termasuk dilakukan uji lab oleh BLH,” ujar Eddy.  Bantahan yang sama juga diungkapkan oleh Ikhsan, salah satu  perwakilan karyawan pabrik. Bahkan, Ikhsan menduga jika pencemaran  yang dikeluhkan petani itu berasal dari pabrik lain.

Loading...

“Berkaca dari pabrik sebelumnya (Pabrik di Jati), justru banyak  petani yang bisa memanfaatkan  air limbah pabrik karena ada kandungan Amonia yang bermanfaat untuk kegiatan  pertanian,” ujarnya. Sementara itu, Margiyanto, kabid Penanggulangan dan Penanganan Dampak Pencemaran Lingkungan (P2DPL) pada BLH membenarkan, jika setiap bulan dilakukan pemeriksaan limbah cair di pabrik kulit itu.

“Dari pemeriksaan hasil lab untuk pabrik Sumber Setia Jaya Abadi, kandungan amonia masih tinggi. Masih di atas standar baku mutu yang seharusnya 10   mg/L,” ujarnya. Berdasarkan data yang diperoleh dari BLH, Untuk Januari   kandungan amonia mencapai  21,5, Februari 31,48, Maret 80,10, dan April 39,88.

Dari data BLH, Agus Rianto,  ketua komisi C mempertanyakan,  apakah tingginya kandungan amonia itu yang membuat saluran irigasi tercemar. “Kalau melihat ini apakah memang benar terjadi pencemaran irigasi seperti  dugaan petani?” tanya Agus.   Margiyanto membantah pernyataan Agus. Menurutnya, masih
perlu pemeriksaan lebih jauh  terkait dugaan pencemaran itu.

“Termasuk memeriksa petani apakah gatal-gatal ini karena  pencemaran limbah. Apakah   hanya petani saja yang mengalami gatal,” tanyanya. Hearing dilanjutkan sidak ke  Pabrik Kulit CV Sumber Setia   Jaya Abadi di Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota  Probolinggo.

Di situ diketahui, sumber air alami yang berada di dalam lokasi pabrik berubah warna. Sumber air yang seharusnya  bening, tampak berubah warna menjadi pink. Tepat di samping sumber mata air yang memiliki diameter  sekitar 10 meter terdapat unit  pengolahan   imbah pabrik.

Air  di dalam pengolahan limbah itu  pun memiliki warna yang sama dengan air dalam sumber mata air tersebut.  Meskipun terjadi perubahan warna merah muda, sejumlah ikan-ikan kecil masih terlihat di Sumber Air  Langsih.

Di sebelah sumber air  terdapat kolam yang berisi air dengan  warna yang sama. Siang itu juga, tim dari BLH  langsung melakukan pengambilan  sampel air dari sumber mata air tersebut. Sampel yang sama  juga diambil dari kolam penampuangan  bak pabrik. (radar)