Browse By

Mengemban Misi Dakwah di Dataran Tinggi

HANYA sedikit catatan yang bisa dihimpun dari kebesaran Sayyid Yahya atau yang lebih dikenal Ki Ageng Penanggungan. Sampai kini, kebesaran Sayyid Yahya kebanyakan berasal dari cerita turun temurun. Selebihnya, makamnya yang ada di Dusun Penanggungan, Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol adalah salah satu bukti bahwa di masanya, Sayyid Yahya pernah menjadi tokoh penting.

Adanya Desa Kejapanan diyakini juga dipengaruhi oleh latar belakang sejarah Ki Ageng Penanggungan. Sebelum masa penjajahan, wilayah Desa Kejapanan dahulu bernama  Penanggungan.Nama Penanggungan diambil karena wilayahnya di sekitar lereng Gunung Penanggungan.

Di abad 15 silam, saat itu Sayyid Yahya memang punya tujuan syiar Islam. Tak hanya di Kabupaten Pasuruan. Tokoh yang diyakini paman dari Sunan Ampel itu, juga melakukan syiar sampai kawasan Mojosari dan Mojokerto.

Namun saat melakukan syiar di Pasuruan, Sayyid Yahya seringkali menuju Gunung Penanggungan. Disinilah tempat ia sering bermeditasi. Bukan tanpa alasan mengapa gunung ini dipilih. Gunung ini dikenal memiliki nilai sejarah tinggi karena di sekujur lerengnya ditemui berbagai peninggalan purbakala.

Seperti candi, tempat petilasan atau pertapaan, maupun petirtaan atau pemandian keamat dari periode Hindu-Budha di Jawa Timur. Gunung Penanggungan yang memiliki ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut merupakan gunung berapi purba yang berada di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Gunung Penanggungan berada pada satu kluster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang. Di masa itu, ia dikenal sebagai Gunung Pawitra. Gunung ini dikelilingi 4 gunung yang lebih kecil yaitu Gunung Gajah Mungkur, Gunung Bekel, Gunung Sarahklopo, dan Gunung Kemuncup.

Loading...

Di sekitar gunung inilah Sayyid Yahya mulai mengenalkan Islam. Gunung ini bahkan oleh masyarakat sekitar, memiliki mitos begitu kuat. Dikutip dari buku “Mengenal Situs Purbakala di Gunung Penanggungan” yang diterbitkan  Universitas Surabaya, menurut konsepsi agama Hindu dan Budha, Gunung Mahameru memiliki sembilan puncak yang ditata simetris.

Nah, Gunung Penanggungan inilah dipercaya punya keterkaitan dengan Gunung Mahameru, tempat tinggal para dewa. Belakangan, nama Pawitra (Penanggungan) disebutkan dalam beberapa sumber sejarah, termasuk prasasti Cunggrang di Dusun Sukci. Prasasti itu dikeluarkan atas nama  Raja Pu Sindok pada tahun saka 851 (929 Sebelum Masehi).

Dari bukti-bukti itulah, besar kemungkinan Sayyid Yahya melakukan syiar agar perlahan masyarakat yang masih mempercayai mitos, bisa hijrah menjadi muslim. Sayyid Yahya pada syiar Islamnya, bisa jadi memang berdakwah di kawasan dataran tinggi. Sebab saat zaman Walisongo  maupun keturunannya, kebanyakan melakukan syiar dengan mengambil lokasi pesisir.

Jika sudah diterima masyarakat,  baru selanjutnya dakwah dilakukan dengan migrasi ke seluruh penjuru. Termasuk Sayyid Yahya yang kedapatan “tugas” untuk meng-Islamkan dataran tinggi.  Saat itu, Sayyid Yahya mendapat tempat istimewa lantaran salah satu kampung di Kejapanan diberi nama Penanggungan.

Bahkan Penanggungan menjadi nama desa hingga  setelah peninggalannya, desa ini berubah menjadi Djapanan dan Penanggungan masih menjadi wilayah dusun di desa  Djapanan. Pada Tahun 1998, Djapanan berganti menjadi  Kejapanan sampai dengan sekarang.

Sayangnya, tidak ada data yang pasti kapan Sayyid Yahya  meninggal. Hanya saja dari cerita yang berkembang, Sayid Yahya sempat meminta jika kelak dia meninggal, jazadnya dimakamkan di Gempol. (radar)

Incoming search terms:

  • ki ageng penanggungan
  • makam mbah penanggungan
  • sejarah ki ageng penanggungan
  • silsilah ki ageng penanggungan