Browse By

Sholeh Semendi, Penyebar Syiar Islam Pertama di Pasuruan

ANTARA Sayyid Arif Segoropuro, Mbah Ratu Ayu Khodijah di Bangil, dan Sholeh Semendi, masih memiliki keterkaitan. Ya, Mbah Sholeh Semendi inilah yang menjadi guru dari Sayyid Arif Segoropuro dan Sayyid Sulaiman, tonggak pendiri Ponpes Sidogiri.

Nama Mbah Sholeh Semendi sudah cukup familiar di telinga warga Pasuruan. Ia adalah kakek dari Mbah Slagah (Hasan Sanusi) yang makamnya berada di Kota Pasuruan. Ia juga adik dari Ratu Ayu Khodijah Bangil, yang makamnya juga dikenal di wilayah Bangil.

Sholeh Semendi memang putra dari Sultan Maulana Hasanudin, pejuang gigih dari Banten.  Meski lahir di Banten, namun Sholeh Semendi memiliki jasa cukup besar dalam penyebaran Islam di Pasuruan. Dari sejumlah cerita yang  berkembang, Mbah Sholeh singgah di Pasuruan pada abad ke-16.

Sepenggal cerita tentang sosok Mbah Soleh itu bisa digali dari Sulton, generasi ke 11 keturunan Mbah Sholeh Semendi. “Jika dihitung, memang sekitar abad ke-16 (Mbah Sholeh menginjak bumi Pasuruan), tepatnya  ketika di Banten terjadi gejolak. Mbah Sholeh Semendi, putra dari Sultan Hasanudin. Beliau keluar dari kekuasaan Banten dan memilih untuk melakukan syiar Islam disini (Pasuruan),” terang Sulton.  

Loading...

Saat itu, Belanda masih gencar menjajah Indonesia. Islam pun belum menjadi agama mayoritas. Sebagai keturunan Wali Sanga, Mbah Sholeh Semendi tak ingin larut dalam kekuasaan. Mbah  Sholeh lebih memilih untuk menjelajahi lautan Jawa, guna menyebarkan  syiar Islam.

Daerah pertama yang didatangi Mbah Sholeh adalah kawasan yang kini bernama Lekok. Di daerah pesisir ini, Mbah Sholeh sempat mempersunting perempuan lokal. Tapi sayangnya, sang  istri terhasut omongan warga yang mencibir Mbah Sholeh, karena Mbah Sholeh tidak bekerja saat itu.

Mbah Sholeh saat itu memang tak pernah melaut seperti warga umumnya. Sehingga, warga memandang Mbah Sholeh pemalas. Akhirnya sang istri terhasut. Namun Mbah Sholeh lambat laun akhirnya mampu menyadarkan warga Lekok untuk mengenal Islam.

Setelah beberapa waktu tinggal di Lekok, Mbah Sholeh lantas mengembangkan syiar Islam ke daerah lain. Tempat yang jadi tujuan selanjutnya adalah Winongan, yang saat itu jadi salah satu daerah cukup berkembang. Ini lantaran sungai di sepanjang Winongan, Rejoso, hingga tembus ke Lekok itu sering menjadi aktivitas pelabuhan.

Waktu itu Belanda pun sering melalui pelabuhan itu. Sebelum Mbah Sholeh datang, Winongan di ceritakan masih banyak dihuni oleh warga non-muslim yakni Budha. Besarnya agama ini juga bisa dilihat dari peninggalan nama-nama tempat, seperti Kebuncandi di Gondangwetan.

Di tempat inilah Mbah Sholeh berupaya menyebarkan dengan ketabahan dan kesabarannya. Selain keilmuan Islam yang dimilikinya, Mbah Sholeh banyak  dibantu oleh santri-santrinya. Belakangan, dua santrinya yakni  Sayyid Arif dan Sayyid Sulaiman yang tak lain keponakannya, turut sukses ‘mengIslamkan’ banyak masyarakat Pasuruan.

Dua  santri itupula yang akhirnya dijodohkan dengan kedua anaknya. Mbah Sholeh juga mengontrol setiap santrinya yang banyak berdakwah di luar Pasuruan. Saat santri Mbah Sholeh kian banyak, Belanda kian merajalela.

Saat itulah, Mbah Sholeh beserta santri-santrinya ikut gerilya melawan penjajah. Perjuangan Mbah Sholeh itu sendiri sempat menimbulkan simpati warga pribumi lainnya, sehingga banyak yang ikut berjuang membantu Mbah Sholeh.

Sampai saat ini belum ada yang tahu betul, kapan Mbah Sholeh wafat. Mbah Sholeh dimakamkan di tempat Ia biasa bersemedi. “Nama Semendi sendiri tercipta karena Mbah Sholeh memang biasa bersemedi,” terang Sulton.  Meski telah puluhan silam dipanggil sang Khalik, namun sampai kini nama Mbah Sholeh masih banyak dikenang warga Pasuruan. Sebab berkat Mbah Sholeh, Islam menjadi berkembang luas di Pasuruan. (radar)

Incoming search terms:

  • mbah semendi
  • sejarah mbah semendi winongan pasuruan
  • sejarah segoropuro Pasuruan
  • makam wali di pasuruan
  • mbah sholeh semendi pasuruan
  • mbah soleh semendi
  • mbah semendi winongan pasuruan
  • mbah semendi pasuruan
  • karomah mbah semendi
  • riwayat mbah semendi