Browse By

Marak Jual Beli Bedak

Bisa Dijual hingga Rp 50 Juta

MAYANGAN–Pengelolaan Pasar Mangunharjo di Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, dapat sorotan Komisi  B DPRD setempat. Selain kondisi pedagang yang semrawut, juga beredar kabar adanya jual-beli bedak di pasar  setempat.

Anggota-komisi-B-saat-melakukan-sidak-di-Pasar-Mangunharjo,-kemarin.-Banyak-bedak-di-pasar-setempat-yang-dijual-belikan.

Tak tanggung-tanggung, satu bedak dijual berkisar antara Rp 25-50 juta. Hal itu terungkap ketika komisi yang membidangi ekonomi itu melakukan  inspeksi mendadak (sidak) di pasar setempat kemarin  (28/10). Semula, sidak itu menindaklanjuti  laporan pedagang burung di bedak belakang yang keberatan dengan keberadaan  pedagang  burung di depan.

Sebab, pembeli  lebih memilih membeli di los dadakan di depan pasar daripada di belakang. Akibatnya, pedagang burung di bedak belakang tidak diminati  pembeli.  Hal itu juga berdampak  pada bedak penjual makanan.

Karena minimnya pembeli, maka barang-barang di bedak belakang sulit laku. Itu sebabnya, sejumlah bedak tampak tutup karena penjualnya tidak lagi melakukan aktivitas jual beli. Anggota Komisi B, Syaifudin mengatakan, kondisi seperti itu sejatinya tidak perlu terjadi jika pemkot bertindak tegas sejak awal.

“Sepertinya, kondisi ini  seperti  hukum sebab-akibat,  mulai  dari dibiarkannya pedagang  burung  di depan sehingga di belakang tidak ada pembeli. Kemudian, kios peracangan juga minim pembeli karena pembeli burung biasanya juga membeli  makanan,”  terangnya.

Loading...

Karena pembeli burung sepi, maka pembeli di kios peracangan  juga sepi. Karena itulah, banyak bedak  di pasar bagian belakang tutup.  Nah, pemilik bedak yang  menganggap bedaknya tidak  profit lagi memilih memindahtangankan  bedak tersebut ke orang lain.

Tentunya, pemindahan tangan itu tidak gratis. Sebab, pemilik  lama ternyata menjual bedak tersebut ke pihak yang akan menempati  kemudian. “Saya sudah sejak lama meminta pemkot  untuk buat MoU (Memorandum  of Understanding,  nota kesepahaman) dengan pedagang.

Dalam MoU itu juga dibuatkan aturan, mana yang  boleh dan mana yang tidak,” tegas politisi PKB itu. “Beri jangka waktu juga, ketika bedak sudah tidak  ditempati satu atau dua bulan,  maka secara otomatis diambil alih pemkot,” imbuhnya.

Baru setelah itu pemkot membuat woro-woro bagi warga yang ingin menyewa bedak tersebut. Dengan demikian, alur kepemilikan bedak menjadi tertata. Sebab, jika tidak begitu, banyak pedagang yang menganggap jika bedak-nya itu hak milik.

Padahal,  menurut Syaifudin, bedak itu hak pakai. Ia juga menduga ada  pegawai  pasar yang “bermain”. “Mustahil kalau mereka membiarkan tanpa ada permainan dibelakang,” tudingnya.  Ketua Komisi B Roy Amran  meminta  pemkot menindaklanjuti persoalan tersebut.

“Harus segera  ada penertiban. Langkahnya,  pemkot  melalui UPT pasar harus mensosialisasikan aturan tersebut.  Setelah itu inventarisir, konsultasikan juga dengan bagian hukum,”  ujarnya. Adanya jual beli bedak itu tidak  disangkal  oleh Abdul Rohman.

Pedagang peracangan ini  mengaku membeli bedak pada seseorang bernama Tasrip, warga  Kelurahan Kebonsari Kulon  seharga  Rp 25 juta. Pasar Mangunharjo  sendiri merupakan  salah satu dari tiga pasar yang  berada  dibawah koordinasi UPT Pasar   Gotong Royong.

Sementara itu, Kepala UPT  Pasar Gotong Royong Hariyanto  mengaku, belum mengetahui  adanya praktik jual-beli bedak   tersebut. Alasannya, ia baru menjabat selama dua bulan terakhir.  “Sementara kami tidak bisa   bertindak, kami perlu konsultasikan  dulu pada atasan,” jelasnya.

Namun, Koordinator di Pasar Mangunharjo Solihin, tidak  membantah adanya praktik jual beli tersebut. (radar)

Incoming search terms:

  • pasar mangunharjo kota probolinggo