Browse By

Honda Astrea Dimodif Jadi Jip Mini

BENGKEL itu berlokasi di Gang 1 Gladak Serang, Kelurahan/Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Dari mulut gang, jaraknya sekitar 200 meter.  Tak ada papan nama bertuliskan “Bengkel Cak Su” di sana. Nama bengkel itu hanya tertulis  di tembok bengkel dengan menggunakan cat  semprot.

Fendi-dan-ayahnya,-Sumadi,-alias-Cak-Su.

Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung sekitar pukul 14.30 Senin (14/9), terlihat sebuah jip terbuka berwarna hijau sedang parkir di halaman.  Ukurannya lebih kecil bila di bandingkan mobil  jip yang biasa terlihat di jalan raya.

Kendaraan  itu hanya bisa ditumpangi maksimal 2 orang.  Itulah kendaraan hasil modifikasi bengkel Cak Su yang dirancang untuk membantu kaum difabel agar tetap bisa keluyuran seperti orang normal. Jip itu awalnya adalah motor Honda  Astrea 800 rakitan tahun 1983.

Loading...

Tapi, di tangan  Sumadi yang biasa disapa Cak Su, motor itu  disulap menjadi jip pada 1989. Sampai kini, terhitung sudah ada 3 kendaraan serupa yang ‘di luncurkan’ bengkel Cak Su. Selain itu, juga ada 30-an motor yang dimodifikasi menjadi kendaraan roda 3 untuk kaum  difabel.

Hasil modiikasinya itu tak hanya dinikmati warga difabel Kota Probolinggo, tapi juga daerah  tetangga. Untuk memodifikasi motor  menjadi kendaraan roda 4, diperlukan biaya hingga Rp 20 juta dengan masa kerja sampai 5 bulan.

Sedangkan untuk memodifikasi menjadi kendaraan roda 3, diperlukan biaya sekitar Rp 5  juta dengan masa kerja maksimal  2 bulan. Biaya itu timbul karena bengkel  Cak Su tak memiliki sparepart yang diperlukan. Sehingga, harus berburu sampai ke luar kota.

Untuk las saja, harus dilakukan di luar bengkel tersebut. Sumadi bercerita, ia bekerja di bengkel  sejak 1963 di Kelurahan  Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran.  Saat itu, bengkel motor masih jarang, tak seperti sekarang  yang menjamur.

Pada 1979, Sumadi mengalami kecelakaan lalu lintas yang membuat  kaki kanannya patah. Akibatnya,  ia pun sempat ‘pensiun’ dari dunia perbengkelan selama setahun. Selama itu, bapak empat anak  itu sering berangan-angan memodifikasi motor menjadi kendaraan  roda tiga atau empat untuk  dirinya  di malam hari.

Secara kebetulan, ada warga  Jl Sunan Bonang datang padanya  dan meminta tolong dibuatkan  kendaraan modifikasi untuk  anaknya yang cacat. Kepada Sumadi,  orang tersebut sempat  menyodorkan  mesin selep. Tapi, Sumadi memilih motor Astrea 800.

Sejak itu, tahun 1989, Sumadi mulai merealisasikan angan-angannya. Upaya itu ia lakukan  malam hari, sambil melayani perbaikan motor di bengkelnya. Proyeknya  rampung pada  1990. “Biasanya sampai malam sendirian.

Kalau sudah jam 24.00,  saya bilang. Wes, Pak. Mene maneh  (Sudah, Pak. Dilanjutkan besok,  Red),” kenang Ningsih, 58, istri Sumadi. “Buatnya tidak perlu  menggambar,” lanjutnya. Sukses dengan modifikasi pertama,  Sumadi melanjutkan dengan proyek-proyek berikutnya.

Jika dulu ia dibantu pekerja, belakangan dia dibantu oleh  anaknya Fendi Wijatmiko, 22  dan cucunya Deni. Mereka modifikasi motor menjadi kendaraan  roda 3, mulai dilakukan sejak  tahun 2000-an.   Saat koran ini berkunjung, terdapat motor Honda Beat rakitan 2014 yang tengah dimodifikasi.

Ban belakangnya terlihat sudah dicopot.  “Yang  modifikasi  rata-rata  orang difabel.  Kalau normal, ngapain modifikasi motor bagus,” kata Fendi yang lulus SMKN 2 jurusan  arsitek 2011 lalu itu.  Baik Sumadi atau Fendi masih  hafal betul, tiga motor yang telah  dimodifikasi menjadi mobil.

Selain jip milik warga Jl Sunan  Bonang yang Senin lalu tengah diservis  di bengkel mereka, mobil  lainnya dipakai warga Kelurahan Kedungasem, serta di Kelurahan Jrebeng  Lor. Ningsih bercerita, jip yang kemarin berada di rumahnya pernah  hendak ditukar dengan mobil  bagus.

Ceritanya, suatu saat, si  pemilik membawanya keliling alun-alun kota dan pelabuhan.  Saat itulah, ada lelaki yang berminat dan menawarkan tukar  mobil. “Katanya untuk anaknya,” ujarnya. Apa yang dilakukan di Bengkel Cak Su itu membuat banyak orang  kagum.

Karenanya, tak ayal jika  Bappeda Pemkot Probolinggo  mendaftarkannya dalam program  SATU (Semangat Astra Terpadu Untuk) Indonesia Awards tahun  2015 dari PT Astra International  untuk kategori teknologi tepat guna.

Juri SATU Indonesia Awards  2015 adalah Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Kepala BKKBN Fasli Jalal, Dosen Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana Universitas Indonesia Emil Salim, Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan  Tri Mumpuni, dan Pakar Teknologi  Informasi Onno Purbo.

Fendik yang kesehariannya membantubapaknya memodifikasimotor menjadi kendaraanroda 3 atau 4 untuk kaum difabel,  bahkan  masuk 4 besar calon penerima  apresiasi SATU Indonesia  Award. Jumat (11/9) lalu, tim Astra bahkan menyempatkan  diri datang ke Bengkel Cak Su  dan mewawancarainya.

Dua terbaik, akan diberi apresiasi  saat peringatan Hari Sumpah  Pemuda, Oktober mendatang.  “Saya tidak tahu kalau didaftarkan,”  katanya  kepada Jawa Pos Radar  Bromo. Berdasarkan website resmi SATU Indonesia Award, apresiasi itu  diberikan  pada pemuda dengan  usia maksimal 35 tahun. (radar)

Incoming search terms:

  • mobil mini rakitan
  • modifikasi motor roda tiga jadi mobil
  • mobil rakitan
  • membuat mobil mini dengan mesin motor
  • modifikasi motor jadi mobil mini
  • modif motor jadi mobil mini
  • cara membuat mobil mini bermesin motor
  • mobil rakitan mesin motor
  • membuat mobil dengan mesin motor
  • membuat mobil kecil dari mesin motor