Browse By

Kiai Nawawi Ikut Turun Gunung

JOMBANG-Kegaduhan kembali mewarnai jalannya rapat pleno yang membahas tata tertib (tatib) di Muktamar ke-33 Nahdlatul lama (NU) kemarin. Jalannya sidang muktamar pun sempat beberapa kali diskor. Pimpinan rapat yang menghentikan sidang pun sempat meminta pendapat sejumlah kiai sepuh.

Pengasuh_Ponpes_Sidogiri_Kraton_Kabupaten_Pasuruan_KH_Nawawi_Abdul_Djalil_(tengah)_meninggalkan_Pendapa_Kabupaten_Jombang_usai_mengikuti_pertemuan_dengan_kiai_sepuh_lainnya_kemarin.

Salah satunya, KH Nawawi Abdul Djalil, pengasuh Ponpes Sidogiri, Kraton, Kabupaten Pasuruan, yang ikut hadir memberi masukan. Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, sidang pleno yang membahas tatib itu sempat diskors sekitar pukul 12.00.

Begitu panitia menskors, beberapa pengurus PB NU berkumpul diPendapa Kabupaten Jombang. Saat itulah sejumlah kiai sepuh berdatangan ke pendapa. Para kiai ini lalu melakukan rapat tertutup. KH Nawawi Abdul Djalil terlihat ikut masuk ke dalam.

Loading...

Selain pengasuh Ponpes Sidogiri itu,  beberapa kiai sepuh juga terlihat. Diantaranya KH Anwar Iskandar (Kediri), KH Maimoen Zubair (Rembang), KH Masdar Masudi (Jakarta), sampai KH Mustofa Bisri (Rembang). Cukup sama para kiai sepuh tersebut menggelar pertemuan.

Kira-kira, ada sekitar 1 jam. Setelah rapat, beberapa kiai sepuh keluar. Diawali dengan Anwar Iskandar. Sayangnya, dia enggan untuk membocorkan apa hasil rapat kiai sepuh tersebut. Begitupula KH Nawawi Abdul  Djalil. Sempat keluar sebentar, KH Nawawi kemudian masuk lagi ke dalam pendapa.

Selang 10 menit kemudian, Kiai Nawawi yang kemarin mengenakan baju cokelat itu, hanya tersenyum. “Semuanya belum jelas. Belum ada hasil karena masih dibahas,” terangnya. Nama KH Nawawi sendiri  sebelumnya juga sempat disebut- sebut masuk bursa ahlul halli wal aqdi (AHWA) yang  direkomendasi PW NU Jatim.

Dalam rekomendasi itu, juga ada nama kiai sepuh asal Kabupaten Pasuruan lainnya, KH Mas Subadar serta sejumlah kiai lainnya. Setelah Kiai Nawawi keluar, berikutnya ada KH Masdar Masudi. Dia juga tidak menyebut jelas, apa hasil rapat.

“Dalam  rapat tadi (kemarin), sejumlah  kiai sepuh memang dimintai  pendapat. Bagaimana caranya supaya rapat pleno bisa segera menghasilkan tatib. Supaya tidak berlama-lama dan bisa segera menyegerakan sidang komisi,” beber Masdar.

Rapat tertutup kiai sepuh tersebut, sedikitnya dihadiri 34 kiai dari seluruh Indonesia. “Selain  kiai sepuh, ada juga pengurus wilayah (PW NU) dan beberapa PB (NU),” terang Masdar. Hasil dari rapat tertutup kemarin akhirnya membawa dampak.

Itu, setelah Rais Am KH  Mustofa Bisri menyampaikan hasil rapat dengan para kiai sepuh  kepada para muktamirin. Saat Gus Mus–sapaan akrab  Mustofa Bisri- menyampaikan  hasil pertemuan dengan para kiai sepuh itu dengan air mata yang menetes di pipinya, suasana rapat pun jadi hening.

Setidaknya, rapat pleno yang penuh akan interupsi, bisa dilanjut dengan agenda sidang komisi. Para peserta muktamar  pun lega. “Bagaimanapun, NU butuh bimbingan kiai sepuh. Kalau kiai sudah turun, kami  tidak berani menolak,” tutur  salah satu peserta rapat asal  Sulawesi. (radar)

Incoming search terms:

  • Kh nawawi abdul jalil
  • kh nawawi abdul jalil sidogiri